20 Contoh Tembang Dolanan Jawa Disertai Pengertian dan Maknanya

Apakah yang dimaksud dengan tembang dolanan ? Tembang dolanan adalah sajian lagu tradisional yang mengandung unsur permainan dan pembelajaran. Unsur permainan dalam tembang itu berwujud kata-kata yang mudah untuk diingat dan indah untuk didengarkan. Dengan mendengarkan tembang dolanan akan membuat anak-anak menjadi lebih gembira ketika bermain.

0 Contoh Tembang Dolanan Jawa

Unsur pembelajaran dalam tembang dolanan  dipilihlah kata-kata yang mengandung nilai-nilai luhur sesuai dengan tradisi setempat. Lagu-lagunya berisi tentang ajaran moral seperti halnya berbakti bagi orang tua dengan rajin belajar, hidup guyup rukun serta hidup untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Tembang dolanan bisa menjadi sarana untuk melakukan learning by playing, atau dalam bahasa Indonesia berarti belajar sambil bermain.


Selain untuk sarana bermain, tembang dolanan juga digunakan oleh kalangan orang tua untuk meninabobokkan anak-anaknya yang masih kecil. Dengan menembang / menyanyikan lagu-lagu yang sarat akan nilai-nilai moral, orang tua bisa menanamkan hal-hal baik yang dirasa dapat membentuk kepribadian seorang anak. Misalkan lagu Jawa Kuwi Apa Kuwi, yang  berisikan ajakan untuk tidak berbohong / korupsi. Lain pula dengan lagu Caping Gunung dimana didalamya mengandung pesan agar kita untuk tidak melupakan orang-orang yang telah membesarkan dan mendidik kita.

Di negara Indonesia sendiri masing-masing daerah rata-rata memiliki tembang dolanan dan banyak ragamnya. Di kesempatan kali ini, admin akan membagikan beberapa contoh tembang dolanan Jawa disertai dengan artinya, hal ini supaya pembaca juga mudah dalam hal memahami setiap lirik kata didalam lagu tersebut. Berikut contohnya :


Tembang Dolanan : Pengertian, Contoh, Makna, Macam-Macamnya



Gajah-Gajah

Gajah-gajah, kowe takkandhani jah
Mata kaya laron kuping ilir   amba-amba
Kathik nganggo tlale
Buntut cilik tansah kopat-kapit
Sikil kaya bumbung
Sasolahmu megang-megung 

( Arintoko, 1956 ) 

Tafsir penjelasan makna
Dalam tembang ini, seolah-olah penyanyi bisa melakukan komunikasi secara langsung dengan hewan gajah. Penyanyi memberi pesan kepada hewan gajah. Seolah-olah sedang menggurui dengan mendiskripsikan gajah sesuai dengan imajinasi mereka.

Kidang Talun

Kidang talun
Mangan kacang talun
Mil kethemil-mil kethemil 
Si kidang mangan lembayung

( Arintoko, 1956 )

Tafsir Penjalasan Makna
Lagu yang sudah sangat terkenal di masyarakat Jawa. Anak-anak diajak untuk dekat dengan kidang ( rusa ). Si rusa seolah-olah dekat dengan anak-anak yang sedang belajar. Dijelaskan pula si rusa yang suka makan daun kacang atau lembayung. 

Jamuran

Jamuran ya gegethok
Jamur apa ya gegethok
Jamur gajih brejijih saara-ara
Sira badhe jamur apa?

( Siti Maryam, 1982 )

Tafsir dan Penjalasan Makna
Jamur biasanya selalu tumbuh pada tempat-tempat yang lembab. Untuk dijadikan makanan memang rasanya enak dan gurih. Harganya murah dan sangat terjangkau bagi masyarakat menengah dan kelas bawah. Budidaya jamur bisa mendatangkan kemakmuran. 

Kupu kuwi

Kupu kuwi tak encupe
Mung abure ngewuhake
Ngalor, ngidul, ngetan bali ngulon
Mrana, mrene, mung saparan-paran
Mbok yo mencok tak encupe
Mentas mencok cegrok
Banjur mabur kleper

(  Siti Maryam, 1982 )

Artinya
Tembang jawa ini menggambarkan binatang kupu-kupu yang sedang beterbangan kesana-kemari. Sayapnya yang berwarna-warni memang indah untuk dipandang. Mereka adalah karunia Tuhan yang telah memberikan warna pada alam raya. Kupu merupakan metamorfosis dari kepompong. Ulat menjadi kepompong setelah sekian waktu. Tuhan telah merubah bentuknya menjadi lebih indah.


Jangkrik Genggong

Jangkrik genggong..jangkrik genggong 
Timbang susah ayo njagong 
Nekani dulurmu ben akeh kancamu

( Nyi Waljinah )


Jago Kluruk

Ing wayah esuk, jagone kluruk
Rame swarane pating kemruyuk
Wadhuh senenge sedulur tani
Bebarengan padha nandur pari
Srengenge nyunar kalon prenahe
Manuke ngoceh ana ing wit-witan
Pating cemruwit rame swarane
Tambah asri donya isine

( Sumiati, 1989 )

Penjelasan
Tembang Jago kluruk menceritakan suasana alam pedesaan. Kehidupan petani yang setiap hari mengerjakan ladangnya. Mereka menanam padi demi ketahanan pangan. Suasana dimana burung-burung menyanyi membuat dunia ini semakin asri. 

Aku duwe pitik

Aku duwe pitik, pitik tukung
Saben dino tak pakani jagung
Petog, gogog, petog
Ngendok pitu, tak ngremake, netes telu
Kebeh trondhol-ndhol, tanpa wulu
Mendhol-mendhol-dhol, gawe guyu

( Arintoko, 1956 )

Penjelasannya 
Seorang anak yang memiliki seekor ayam dan dirawatnya setiap hari, sampai akhirnya ayamnya bertelur. Telur yang semula berjumlah 7 akhirnya menjadi 3 ekor ayam. Keceriaan anak tersebut digambarkan ketika melihat anak ayam miliknya tidak memiliki bulu dan terlihat lucu.


Cublak-cublak suweng

Cublak-cublak suweng
Suwenge si gulender
Mambu kethundung gudel
Pak empong lere-lere
Sopo ngguyu ndelekkake 
Sir sir pong dele kopong 
Sir sir pong dele kopong


Sluku-sluku bathok

Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si rama menyang kutha, leh olehe payung mutha
Mak jenthit lololobah, wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah, yen urip golekna duwit

( Ki Narto Sabdo )

Penjelasan
Tembang diatas memiliki pesan supaya seseorang mau berusaha sebaik-baiknya demi kehidupannya. Orang jangan sampai menjadi beban bagi orang lain.

Tikus pithi

Tikus pithi duwe anak siji
Cit cit cuwit, cit cit cuwit
Si tikus mangan pari

Lagu / tembang Jawa ini cocok untuk bahan pengajaran di tingkat taman kanak-kanak. Seolah-olah tikus yang tidak berharga pun bisa dijadikan teman akrab. Terbukti dengan lagu ini, bisa memberikan sapaan pada tikus sebagai kawan bermain.  


Menthog-menthog

Menthog-mentog, tak kandani
Mung lakumu, angisin-isini
Mbok yo ojo ngetok, ana kandang wae
Enak-enak ngorok, ora nyambut gawe
Menthok-menthok, mung lakumu
Megal-megol, gawe guyu

Lagu ini anak seolah-olah bisa berkomunikasi dengan hewan itik. Dia menggurui / menasehati agar si itik tidak keluar kandhang karena dinilai memiliki kelakuan yang lucu. 


Caping gunung

Saben bengi nyawang konang
Yen memajang mung karo janur kuning
Kembang wae weton nggunung
Pacitan sarwa jenang
Panas udang aling-aling caping gunung
Nadyan wadon sarta lanang
Inumane banyu bening

Langgam :

Dhek jaman berjuang
Njur kelingan, anak lanang
Biyen tak openi, ning saiki ana ngendi
Jarene wis menang
Keturutan sing digadhang
Biyen ninggal janji
Ning saiki apa lali
Neng gunung, tak cadhongi sega jagung
Yen mendhung tak silihi caping gunung
Syukur bisa nyawang
Gunung desa dadi rejo
Dene ora ilang
Nggone padha, lara lapa

( Anom Suroto )

Penjelasan
Suasana desa digambarkan lagu caping gunung. Sikap hidup yang sederhana dan alami membuat rindu pada masa silam. Masa depan dihadapi dengan perasaan optimis. Pada masa muda, sengsara tidak mengapa. Nanti pada waktunya, akan enak dan mulia.  


Sluku-Sluku Bathok

Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si rama menyang kutha, leh olehe payung mutha
Mak jenthit lololobah, wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah, yen urip golekna duwit

Pengertian 
Tembang diatas memiliki pesan supaya seseorang mau berusaha sebaik-baiknya demi kehidupannya. Orang jangan sampai menjadi beban bagi orang lain.


Lela ledhung

Tak lela, lela-lela, ledhung
Cep meneng, aja pijer nangis
Anakku kang ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune
Tak gadhang-gadang bisa urip mulya
Dadia wanita utama
Ngluhurake asmane wong tuwa
Dadia pendekaring bangsa
Wis cep menenga anakku
Kae bulane ndadari
Kaya ndas buta nggilani
Lsagi nggolekki carane
Tak lela, lela-lela ledhung
Enggal menenga ya cah ayu
Tak emban slendhang bathik klawu
Yen nangis mundak gawe bingung

( Waljinah, 1980 )

Pengertian 
Pada masa kecil ibunya, berharap sambil mengayun-ayun bayi. Kelak menjadi seseorang yang berguna bagi bangsa dan negara.   


Gambang Suling

Gambang suling
Gambang suling ngumandhang swarane
Thulat-thulit kepenak unine
Unine mung nrenyuhake bareng lan kentrung
Ketipung suling, sigrak kendhange

( Ki Narto Sabdo, 1980 )

Pengertian 
Lagu / langgam Jawa ini memberikan deskripsi tentang nilai estetika ricikan gamelan yang berupa gambang dan suling. Meskipun keberadaannya cukup sederhana namun terdengar indah dan enak dirasakan. Ini merupakan kesadaran untuk bermusik.  

Kuwi Apa Kuwi

Kuwi apa kuwi e kembang melati
Sing tak puja puji, aja do korupsi
Merga yen korupsi, negarane rugi
Pripun kang niku iyak oro-oro ngono

Kuwi apa kuwi, e kembange menur
Sing tak puja puji, ayo padha jujur
Merga yen dha jujur negarane makmur
Pripun kang niku iyak ora-ora ngono

( Wasitadipura 1983 )

Penjelasan
Semua penyelenggaraan negara tidak boleh mempermainkan anggaran. Karena anggaran sejatinya adalah hak rakyat. Makanya tidak boleh dikorupsi agar negara tidak rugi. Begitulah pelajaran yang perlu diresapi bersama. Negara ini perlu dikelola dengan sungguh-sungguh, oleh orang-orang jujur dan berintegritas, karena mereka mempunyai tanggung jawab yang menyangkut hajat hidup orang banyak.   

Walang Kekek

Walang kekek walange kadung
Mabur menek mencok nang kali
Aja ngeyek mundhak keduwung
Luwung sareh tentrem neng ati

( Waljinah 1980 )


Ilir-ilir

Ilir-ilir, Ilir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Cah angon-cah angon
Penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodotira
Dodotira kumitir bedhah ing pinggir
Domdomana jrumatana
Kanggo seba mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Ya surak asurak hiyo

( Sunan Kalijaga )

Arti 
Arti tembang Jawa diatas kurang kebih demikian. Ilir-ilir adalah tanaman yang sudah bersemai dan tampak menghijau ibarat penganten baru. Wahai penggembala panjatlah blimbing itu meski dahannya licin. Panjatlah untuk mencuci kain, kain yang sedang sobek pinggirnya. Jahitlah dan tamballah untuk menghadap nanti sore mumpung bulannya terang dan lebar tempatnya. Mari bersorak gembira.    


Gugur Gunung

Ayo kanca ayo kanca ngayahi karyaning praja
Kono-kene kono-kene gugur gunung tandang gawe
Sayuk-sayuk rukun bebarengan ro kancane
Lila lan legawa kanggo mulyaning negara

Siji loro, telu, papat bareng maju patpat-papat
Diulang-ulungake murih enggal rampunge
Hilopis kuntul baris, holopis kuntul baris
Holopis kuntul baris, holopis kuntul baris

Artinya
Kebersamaan, kerukunan dan kekompakan harus ditegakkan dalam masyarakat. Semua elemen sosial bersatu padu, untuk mensejahterakan masyarakat. Inilah cara yang efektif untuk melakukan pembangunan yang partifipasif. 


Dhayohe Teka

E, dhayohe teka, e gelarna klasa
E, klasane bedhah, e tambalen jadah
E, jadahe mambu, e pakakna asu
E, asune mati, e cemplungna kali
E, kaline banjir, e kelekna pinggir

( Wignya Pangrawit, 1932 ) 

Pengertiannya 
Setiap tamu yang datang ke kediaman kita hendaknya dihormati. Tuan rumah yang menghormati tamunya adalah tindakan yang beradab. Namun demikian, sang tamu pun juga harus mengerti dan menyadari terhadap kemampuan tuan rumah. Kedua belah pihak hendaknya saling menghormati satu sama lainnya.  

 
Baca juga : 

Contoh tembang dolanan Jawa disertai dengan maknanya di atas hanya sebagian kecil dari sekian banyak tembang dolanan yang ada dan berkembang di dalam masyarakat Jawa. Mari kita mewariskan dan melestarikan kesenian Jawa dengan mengenalkan tembang-tembang Jawa kepada anak cucu kita masing-masing. Selain bisa turut serta dalam melestarikan budaya, kita juga bisa menyampaikan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.

Belum ada Komentar untuk "20 Contoh Tembang Dolanan Jawa Disertai Pengertian dan Maknanya"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel