Skip to main content

50 Kata mutiara Jawa tentang Kehidupan, Ilmu dan Cinta

Hidup dalam masyarakat dan budaya Jawa kita akan banyak menemukan untaian kata-kata mutiara Jawa yang seringkali disampaikan oleh orang tua kepada anak atau cucu mereka. Di dalamnya terdapat pesan moral yang dijadikan sebagai pegangan hidup dan diwariskan turun temurun oleh leluhur mereka.

50 Kata mutiara Jawa


Kata-kata bijak Jawa yang ada seringkali tidak kita temukan secara tertulis dalam sebuah buku serta pemaknaannya pun sering berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Kendati berbeda namun secara garis besar, kita bisa mengetahui makna atau pesan didalamya apabila kita bisa menganalogikannya dengan kejadian dan kehidupan kita sehari-hari.

Tidak sebatas berbicara tentang kehidupan saja. Pada kenyataanya ada banyak sekali kata bijak bahasa Jawa halus tentang ilmu, percintaan, hubungan rumah tangga serta hubungan sosial yang bisa kita gali dari masyarakat Jawa. Pada umumnya, kata bijak Jawa disampaikan menggunakan bahasa Jawa ngoko atau bahasa Jawa kasar apabila digunakan dalam percakapan sehari-hari. Berbeda apabila digunakan pada acara-acara formal seperti halnya acara syukuran, ataupun halal bihalal. Maka kata mutiara Jawa haluslah yang akan disampaikan.

Kata kata mutiara Jawa yang terdengar lucu dan bersifat jenaka, mungkin akan lebih bisa mencairkan suasana apabila diperdengarkan ketika berbicara dengan banyak orang. Anda bisa mencobanya ketika berbicara di depan umum, apabila suasana terlalu tegang ataupun saat butuh penyegaran untuk kembali  menghidupkan suasana. Anda juga bisa membagikan pantun berbahasa Jawa apabila hal itu diperlukan.

Nah dikesempatan kali ini, penulis tidak akan membahas mengenai pantun berbahasa Jawa, melainkan sedikit berbagi tentang kata mutiara bahasa Jawa beserta artinya yang mungkin saja berguna bagi anda. Penulis mengambil dari beberapa referensi baik itu melalui media cetak maupun elektronik. Berikut ini 50 Kata mutiara bahasa Jawa khusu bagi anda. :

50 Kata mutiara Jawa tentang Kehidupan, Ilmu dan Cinta 


Adhang-adhang tetesing embun
( Menunggu / mengharap tetesan embun )
Seorang yang mengharapkan rejeki tanpa ada usaha untuk bisa mendapatkannya. Orang yang demikian seringkali berharap rejeki bisa datang dengan sendirinya



Koyo orong-orong kepidak 
( Tiba-tiba membisu seperti jangkrik yang terinjak )
Seorang atau suasana yang semula ramai tiba-tiba menjadi diam atau hening karena suatu alasan. Misalnya : Tiba-tiba diam ketika guru kelas datang, atau tiba-tiba diam ketika atasan datang.


Aja gumunan
( Jangan mudah terkagum-kagum )
Suatu prinsip hidup orang Jawa yang mengajarkan kita untuk tidak mudah kagum dengan suatu hal yang baru, karena rasa kagum yang berlebihan membuat kita mudah diperdaya.   



Ajining sarira, dumunung ing busana 
( Harga diri badaniah seseorang terletak pada pakaiannya )
Harga diri fisik seseorang terlihat saat dia mengenakan pakaian. Semakin tinggi derajat sosial seseorang maka pakaian yang dikenakannya akan semakin bagus dan mahal 



Busuk ketekuk, pinter keblinger 
( Orang bodoh teraniaya, orang pandai terlibas )
Menggambarkan kondisi zaman yang sudah rusak. Dimana orang pintar dan orang bodoh sama-sama menderita



Crah agawe bubrah, rukun agawe sentosa
( Bertengkar membuat kehancuran, membina kerukunan membuat kita sejahtera )
Dalam berorganisasi atau dalam kehidupan sosial, pertengkaran akan membuat solidaritas kelompok pudar dan berujung pada kehancuran. Berbeda dengan ketika saling menjaga kerukunan. Kerukunan akan membuat kita maju dan sejahtera.


Emban cindhe, emban ciladan
( Digendong dengan kain halus dan satunya digendong dengan kain kasar )
Kata bijak Jawa ini menjelaskan seorang yang pilih kasih antara satu dengan yang lainnya.


Nawu segoro nganggo bathok borot
( Menguras laut menggunakan tempurung kelapa yang sudah berlubang )
Mempunyai cita-cita yang tinggi namun mustahil tercapai


Ngenteni timbule watu item 
( Menunggu mengapungnya batu hitam )
Menunggu hal yang mustahil atau tidak akan pernah terjadi


Ora ubet, ora ngliwet
( Tidak bekerja, maka tidak akan bisa menanak nasi )
Seorang yang ingin mendapatkan rejeki, maka dia haruslah bekerja 

Ing Madya Mangun Karsa
( Di tengah membangun kehendak )
Seorang pemimpin ketika berada di tengah masyarakat hendaknya bisa menjadi penyatu tujuan dan cita-cita masyarakat. Seorang peimpin yang senantiasa memberikan bimbingan dan mengambil keputusan dengan cara musyawarah dan mufakat yang mengutamakan kepentingan masyarakat.


Ing Ngarso Sung Tuladha
( Di depan memberikan teladan )
Seorang pemimpin ketika di depan sebaiknya harus bisa memberikan teladan atau contoh. 


Kabegja kabrayan
( Keberuntungan kekeluargaan )
Seseorang yang keadaannya serba baik, seseorang yang mempunyai banyak kekayaan dan keturunan


Pager mangan tanduran 
( Pagar makan tanaman )
Orang yang dipercaya untuk menjaga malah justru merusak 


Ora umur ora sembur
( Tidak memberi materi tidak memberi petuah )
Seseorang yang tidak mau menyelesaikan suatu masalah bersama. Tidak memiliki andil untuk kepentingan bersama 




50 Kata mutiara Jawa tentang Kehidupan




Kalah cacak menang cacak
( Kalah menang mencoba )
Kalah dan menang berani mencoba, daripada tidak sama sekali lebih baik mencoba. Karena dengan mencoba kita setidaknya mempunyai peluang untuk memperoleh keberhasikan  



Padu Jiwa Dikanthongi
( Menggunakan alasan kyai jiwa dalam saku )
Orang yang pandai sekali dalam berdebat / orang yang pandai bersilat lidah


Ora Tedheng Aling-Aling
( Tidak memakai perisai penutup )
Mengutarakan semua isi hatinya dengan terbuka, mengemukakan apa yang menjadi pemikirannya tanpa ada sesuatu yang ditutup-tutupi  


Ora Kena Mencla-Mencle
( Tidak boleh berubah-ubah pendiriannya )
Mengambil keputusan tidak boleh mendua. Menentukan apa yang menjadi pilihannya tanpa ada rasa ragu-ragu. Tidak boleh berganti haluan sehingga membingungkan orang lain


Ora Mambu Enthong Irus
( Tidak bau centhong dan pengaduk sayur )
Tidak ada hubungan kekerabatan 




Mulih mula malanira
( Kembali ke tempat asal kehidupannya )
Ajaran tentang manusia akan kembali ke tempat asal kehidupannya yakni Tuhan Yang Maha Esa  



Mundur Mungkur Gangsir
( Mundur membelakang seperti jangkrik )
( Seseorang yang tidak ingin terlibat dalam suatu masalah sehingga dia mundur secara teratur.


Mepet Ono Rembese
( Merapat ada rembesannya )
Seorang yang mencoba menghindari tagihan malah terkena denda


Maling Kabunan
( Maling terkena embun )
Pencuri yang tidak mendapatkan apa apa dari usahanya mencuri


Karubyung Kabotan Pinjung 
( Repot karena keberatan kain )
Suatu sindiran khususnya untuk perempuan yang selalu kerepotan. Wanita yang seringkali terlambat karena sibuk menjaga penampilannya


Jalukan Tanpa Wewehan
( Meminta tanpa memberi )
Orang yang seringkali meminta tanpa memberi. Bersahabat dengan banyak orang dan banyak meminta tetapi pelit untuk dimintai


Jangkrik Mlebu Kili 
( Jangkrik terkena kili )
Orang yang suka dipuja-puji dalam melakukan sesuatu hal / orang yang mau bekerja apabila ada dorongan dari luar


Maling Tebu Sauyun
( Pencuri tebu satu rumpun )
 Satu keluarga menjadi pencuri semua 


Iwak Mlebu Ing Wuwu
( Ikan masuk ke bubu )
Mudah tertipu karena bodoh, terjebak dalam kesulitan, tertangkap oleh musuh dalam perang.


Ibu Bumi Bapa Aksara 
( Ibu bumi, ayah langit )
Falsafah Jawa yang mengatakan bahwa bumi adalah simbol dari seorang ibu karena menumbuhkan tanaman. Sedangkan langit adalah simbol dari ayah, karena melindungi kehidupan  



Legan Golek Momongan
( Bujangan mencari asuhan )
Seorang yang sudah hidup enak namun mencari hal yang aneh-aneh sehingga akan menyusahkan dirinya sendiri


Lebak Ilining Banyu
( Air mengalir ke bawah )
Orang kecil yang seringkali dijadikan kambing hitam atau anak buah yang sring dijadikan sasaran kemarahan atasannya  


Lir Madu lan Manise
( Bagai madu rasa manisnya )
Dua hal yang tidak bisa dipisahkan, apabila hal tersebut dipisahkan maka tidak ada artinya 


Lukak apakak
( Kurang tetapi pas )
Seorang yang kurang pengalamannya tetapi ingin seperti layaknya ahli. Orang bodoh yang ingin terlihat seperti orang pandai 


Lobok Atine
( Longgar hatinya )
Orang yang sangat sabar. Bisa menampung dan bisa mengatasi keluh kesah orang lain


Angkara Murka Budi Candhala
( Angkara murka dan perilaku kejahatan ) 
Perilaku yang harus dihindari manusia


Angus-angus angadu ing pucuking eri
( Sapi liar mengadu di ujung tanduk )
Dua orang kuat yang sama-sama bertikai


Golek Geni Adedamar
( Mencari api, membawa api )
Orang yang mencari ilmu lebih tinggi harus mempunyai pengetahuan dasar yang cukup 


Rangkep nyawane
( Mempunyai nyawa ganda )
Orang yang memiliki kesaktian atau dukungan kuat


Rasa Mulya Kasucian
( Rasa tinggi hati )
Merasa dirinya lebih tinggi, mengunggul-unggulkan dirinya sendiri



Tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati
( Pokok kayu jarak merajalela, pokok kayu jati mati )
Kejahatan yang semakin lama semakin merajalela, namun kebaikan, ketinggian akhlak semakin dijauhi oleh orang


Tunggak semi
( Pokok kayu bertumbuh )
Pengibaratan pribadi manusia yang selalu bertunas dan bertumbuh


Guna kaya purun
( Kepandaian kekayaan kemauan )
Tiga bekal yang hendaknya dimiliki oleh setiap orang untuk bisa mengabdi kepada negara dan berjuang demi masyarakat.

Mulat sarira hangsara wani
( Melihat diri sendiri dan berani mengoreksinya )
Pelajaran hidup tentang seseorang yang berani melihat dan mengoreksi dirinya sendiri serta melihatnya dengan jujur dan obyektif

Mupus Pepesthen 
( Menerima kepastian )
Pasrah menerima nasib. Menyerah kepada takdir

Obah ngarep ubed mburi
( Bergerak di depan, ribut di belakang )
Tingkag laku pemimpin menjadi panutan orang banyak

Obor-obor blarak
( Membakar daun kelapa )
Orang yang memulai suatu permasalahan 

Geganthilane ati
( Pengait hati )
Sesuatu yang menjadi kesenangan / seorang yang dicintai

Gajah ngidak rapak
( Gajah yang menginjak makanannya )
Orang yang melanggar kata-katanya sendiri

Dengan mengerti, memahami kata mutiara Jawa diatas, setidaknya kita bisa tahu bahwa kita adalah bangsa yang memiliki nilai-nilai budaya yang tinggi. Nilai yang selaras dengan adat ketimuran dan perlu kita lestarian serta perlu kita hayati bersama. Agar kiranya kita berbangga serta tidak lupa akan jati diri kita sendiri. Salam.  
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar