10 Pitutur Luhur Semar Bahasa Jawa Beserta Artinya

Siapa yang tidak kenal dengan tokoh Semar ? Tokoh pewayangan satu ini terkenal dengan kata-kata bijak / pitutur luhurnya dan merupakan salah satu bagian dari punakawan yang bertugas untuk membantu para ksatria Pandawa. Dieritakan bahwa Semar merupakan tokoh utama dalam punakawan dan bertindak tidak hanya sebagai pengasuh melainkan juga menjadi penasihat para ksatria Pandawa.

10 Pitutur Semar, Filosofi Hidup Orang Jawa


Semar juga merupakan abdi dalem dari Sahadewa, yang merupakan anggota keluarga dari Pandawa. Disini Semar tidak hanya bertindak sebagai penghibur bila majikannya mengalami kesusahan, melainkan juga seringkali memberikan nasihat apabila diperlukan. Konon Semar bukan sekedar rakyat jelata biasa, melainkan penjelmaan dari Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa yang sakti dan banyak disegani. 


Setiap kali kemunculan tokoh Semar dalam pewayangan pastilah dia memberikan petuah-petuah bijak baik itu untuk untuk punakawan maupun tokoh pewayangan lainnya. Nilai-nilai filosofi dalam kehidupan orang Jawa bisa kita gali dari tokoh yang satu ini. Salah satunya adalah dari fisiknya yakni jari telunjuknya. Jari telunjuk yang seolah menuding melambangkan karsa [ keinginan ] yang kuat untuk menciptakan sesuatu. Mata yang menyipit merupakan lambang ketelitian dan keseriusan dalam mencipta.

Selain dari bentuk fisiknya, kita bisa banyak belajar Filosofi kehidupan orang Jawa dari kata-kata bijak Semar atau lebih tepatnya pitutur luhur dari Semar itu sendiri. Apa saja pitutur luhur dari tokoh Semar, berikut ulasannya :

1. Tanggap Sasmita

Padha gulangen ing kalbu. Ing sasmita amrip lantip. Aja pijer mangan nendra. Ing kaprawiran den kesthi, pesunen sarinira, sudanen dhahar lan guling.

Artinya : Latihlah hatimu, tentang suara hati agar kamu bisa menjadi ahli. Jangan terlalu banyak dan santai, tentang sifat perwiraan, agar menjadi cita-cita. Ambilah intisarinya. Kurangilah makan dan minum.                         


2. Aja Metani Alaning Liyan

Alaning liyan denandhar. Ing beciking liyan dipunsimpen. Becike dewe gununggung. Kinarya pasamuwan. Nora ngrasa alane dhewe ngendhungkur. Wong kang mangkono wateknya. Nora pantes denpedhaki.

Artinya : Kejelekan orang lain disebarkan. Kebaikan orang lain dirahasiakan. Kebaikan diri sendiri dibesar-besarkan, dibuat cerita dalam suatu jamuan. Tidak merasa kejelekan diri sendiri sangat banyak. Orang yang memiliki perangai seperti itu tidak pantas untuk didekati. 

3. Eling Lan Waspada 

Amenangi jaman edan. Ewuh aya ing pambudi. Milu edan ora tahan. Yen tan milu anglakoni. Boya kaduman melik. Kaliren wekasanipun. Ndilalah karsa Allah. Begja-begjane kang lali. Luwih begja kang eling lawan waspada.

Artinya : Mengalami hidup pada jaman yang tidak menentu memang sangat repot. Mau ikut arus namun hati tidak sampai. Kalau tidak ikut, tidak akan kebagian apa-apa. Akhirnya malah kelaparan, namun hal itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagiamana sangat beruntungnya orang-orang yang " lupa " masih beruntunglah orang yang selalu "ingat" dan "waspada".  


4. Alon-Alon Waton Kelakon

Den ararah pangarahing ati. Pira-pira wus tekan mejana. Gliyak-gliyak yen ing tembe. Bisa lestari maju. Marma kudu den kawekani. Golek dalan kang padhang. Aja grusa-grusu. Elinga basane ana. Alon-alon yen kalakon kang kinapti. Yekti sewu nugraha. ( Serat pepeling lan pamrayoga )

Artinya : Usahakan dalam hati. Cukupkanlah kita dalam taraf wajar. Berjalanlah pelan-pelan yang pada akhirnya dapat terus maju. Maka harus bisa mengendalikan diri, mencapai jalan terang. Jangan terburu-buru. Ingatlah selalu pada peribahasa, biar lambat asal selamat dan sampai yang dituju. Yakni seribu anugerah.


5. Nulada Laku Utama 

Nuladha laku utama, tumrape wong tanah Jawi. Wong agung ing ngeksiganda. Panembahan Senopati. Kepati amarsudi. Sudane hawa lan nepsu. Pinepsu tapa brata. Tanapi ing siyang ratri. Amamangun karyenak tyasing sesama.

Artinya : Contohlah perilaku yang utama. Bagi orang Jawa. Orang yang besar dari Ngeksidana ( Mataram ). Panembahan Senopati yang tekun, mengurangi hawa nafsu dengan jalan prihatin ( bertapa ), serta siang malam, selallu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama ( kasih sayang ).


6. Urip Sakmadyone

Barang karya den waspadeng urip. Lan wewekas iku kang kinarya. Anengani prayogane. Kadya ta sira ndulu. Ing sasotya nawa retna. Awit kepengen sira. Ing tyas kudu-kudu. Tengahana ing prayoga. Wekasane yen tan kadugi ing regi. Temah karya malarat.   

Artinya : Menjalani hidup itu harus selalu waspada, dalam segala tindakan. Pesanku seyogyanya pakailah segala sesuatu itu yang sedang. Misalkan engkau melihat permata yang sangat bagus, karena engkau menginginkannya maka hatimu mendesak terus ( untuk memilikinya ). Ambillah tengah-tengahnya, sehingga nanti apabila engkau tidak mampu membayar karena harganya tinggi, engkau tidak jatuh miskin.   

7. Nadyan Silih Sidhekah, Lamun Ora Lawan Eklasing Ati

Nadyan silih sidhekah, lamun ora lawan eklasing ati. Arane mung isin mundur. Kudu weweh-wewehan. Weh rekasa kang kapeksa melu-melu. Kelu ombyake kang bisa. Kang compleng ambrebes mili.

Artinya : Meski sering bersedekah, tapi tidak dengan namanya masih dikatakan mundur. Harus saling memberi. Yang miskin terpaksa ikut, mengikuti pengaruh yang mampu, si miskin menangis dalam hati.



 8. Laku Prihatin Untuk Mendapatkan Keberkahan Hidup

Wataking wong cegah nendra. Kasinungan lepas budi. Wataking wong cegah sega. Teguh pikantukireki. Wataking cegah warih. Tawa ing wisa wong iku. Yeku yen sira seya. Mangkana pahalaneki. Pan wong tapa tinemu sabarang sedya.

Artinya : Watak orang yang gemar mencegah tidur, akan mendapat mendapat kemampuan berbudi lapang. Sedangkan watak sesorang yang mengurangi makan, akan mempeoleh kekuatan lahir dan batin. Mencegah air akan mendatangkan watak atau kemampuan tubuh untuk tawar dari bisa. Hal-hal semacam itu, jika memang engkau kehendaki, akan demikian itulah pahalanya. Bukankah petapa itu selalu berhasil mencapai keinginannya?

9. Aja Adigang, Adigung, Adiguna

Ana pacopanipun. Adiguna, adigang, adigung. Pan adigang kidang adigung pan esthi. Adiguna ula iku. Telu pisan mati sampyoh.

Artinya : Ada ucapan yang mangatakan, adiguna ( mengandalkan kesaktiannya ), adigang ( mengandalkan  kelincahannya ) adigung ( mengandalkan kekuatannya ).  
   

10. Perbuatan Baik Terasa Sulit Sebelum Dijalankan

Panggawe becik puniku. Gampang yen wus den lakoni. Angel yen durung kalakyan. Arasa-arasen nglakoni. Tur iku den lakonana. Mapangati badaneki 
 
Artinya : Perbuatan baik itu, mudah jika sudah dijalankan. Sulit apabila belum dilaksanakan, karena malas untuk memulainya, namun jika dijalankan, akan bermanfaat bagi diri sendiri.


    
10 Pitutur luhur / kata-kata bijak Semar diatas hanya sebagian kecil dari pitutur yang ada. Masih banyak kata bijak dari tokoh yang satu ini. Anda tertarik dengan pitutur luhur yang lain?!, baca juga 200 Peribahasa Jawa dan artinya yang sudah kami rangkum untuk anda. Terimakasih

Belum ada Komentar untuk "10 Pitutur Luhur Semar Bahasa Jawa Beserta Artinya"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel