200+ Peribahasa Jawa dan Artinya [ Sindiran, Nasehat & Kesabaran ]

Peribahasa Jawa dan artinya yang seringkali diajarkan di bangku sekolah merupakan salah satu warisan dari leluhur kita dalam bentuk karya sastra serta diwariskan secara turun temurun baik itu dalam bentuk lisan maupun tulisan. Di dalamnya akan dapat kita jumpai nasehat ataupun kata-kata mutiara yang penuh dengan filosofi kehidupan.

Peribahasa Jawa dan artinya juga seringkali digunakan untuk menyindir secara halus, memberi nasehat serta mengingatkan anak-anak kita atau generasi saat ini. Alasan kita menggunakan pepatah jawa adalah, supaya mereka juga tahu bahwa kita memiliki kekayaan karya sastra yang patut untuk kita banggakan dan lestarikan.

Peribahasa Jawa dan Artinya

Bahasa dalam peribahasa yang menggunakan perumpamaan akan membuat orang berpikir tentang apa yang ingin disampaikan orang lain kepada diri kita. Walaupun terkadang apa yang dimaksud  menusuk dan melukai diri kita, kita akan semakin sadar dan selalu ingat karena hal itu disampaikan secara halus dan tidak langsung.

Baca juga : 50 Kata bijak bahasa Jawa dan artinya

Berikut ini kumpulan peribahasa Jawa dan artinya yang berisi sindiran, nasehat, kesabaran dan berhasil kami rangkum dari berbagai sumber. 


Peribahasa Jawa dan Maknanya

Abot telak karo anak    : Abot : berat. Telak : Tenggorokan [ Berat tenggorokannya sendiri ] Hanya mementingkan kepentingannya sendiri, tanpa memikirkan kebutuhan anaknya  

Adang ngliwet : Adang : Alat untuk menanak nasi. Ngliwet : Menanak nasi di periuk [ Secara bersamaan menanak nasi di dua tempat ]  artinya Dalam waktu yang bersamaan dapat melakukan dua atau lebih tugas dan menyelesaikannya dengan baik

Adedamar tanggal pisan kapurnaman : Adedamar : Menerangi dengan pelita atau lampu. Tanggal kapisan : Tanggal satu, tanggal muda. Kapurnaman : [ Diterangi sinar rembulan ] artinya Sekitar tanggal pertengahan, malam sudah terang.

Adhang-adhang tetesing embun : Adhang : Menunggu datangnya. Tetesing : Menetes [ Menunggu turunnya tetesan embun ] artinya Orang yang mempunyai cita-cita namun tidak diperjuangkan, melainkan menunggu datangnya nasib baik yang menghampirinya.

Aji godhong jati aking. Aji : bernilai. Godong jati : Daun jati. Aking : Kering [ Masih lebih berharga dibandingkan dengan daun jati kering ] artinya Begitu nistanya martabat seseorang

Akeh enggone mangan uyah. Akeh : Banyak. Enggone : Melakukan. Mangan uyah : Makan garam [ Sudah terlalu banyak makan garam ] artinya Sudah kenyang dengan suka dukanya kehidupan - Sudah tua.

Akeh gluduge, kurang udane. Akeh gluduge : Banyak petirnya. Kurang udane : Kurang atau tidak hujan [ Jika banyak petir, biasanya kurang hujannya ] artinya Jika biasanya orang banyak janjinya, maka seringkali tidak menepatinya. Jika orang berlagak sombong biasanya tidak ada buktinya. Jika seseorang berlagak pandai, biasanya kosong otaknya.

Aling-alingan godhong waringin : Aling-aling : bersembunyi / menutupi diri. Godhong waringin : Daun beringin  [ Bersembunyi di balik daun beringin - daun kecil sekali, sebesar ibu jari ukurannya ]  artinya Berdalih dengan cerita yang tidak masuk akal untuk menutupi kesalahannya.

 Alap - ingalap : Alap : Mengambil untuk dimiliki. Ingalap : Diambil untuk dimiliki [ Memiliki ganti dimiliki ] artinya Perkawinan saling-silang. Yang laki-laki mengwini adiknya atau kakaknya yang perempuan.

Ambagas tan ana : Bagas : Sehat, kuat. Ambagaas : Memperkuat. Tan : Tidak. Ana : Ada [ Memperkuat dengan yang tidak ada ] artinya Orang yang berperkara / berdalih pada saksi-saksi yang tidak ada ( telah mati ) atau bukti-bukti yang tidak ada ( hanya mengarang saja )

Ambalang tai. Ambalang ; melempar. Tai  : Kotoran [ Melempar dengan tinja ] artinya Orang yang telah dibantu dengan kebaikan malah membalasnya dengan keburukan.

Ambalik muka amigantaka. Ambalik muka : Memalingkan muka. Amigantaka : Menghindari mati [ Membalik muka untuk menghindari mati ] artinya Orang yang mengingkari keyakinannya agar terhindar dari ancaman kematian. 

Ambalithuk khukum : Ambalithuk : Menipu. Khungkum : Hukum [ Orang yang memutar balikkan pengertian hukum, Untuk kepentingan dirinya sendiri atau agar terhindar dai tuntutan hukum yang berlaku ] 

Ambalung sumsum : Ambalung : Meresap ke dalam tulang. Sumsum : Tulang sumsum. [ Orang yang memiliki keyakinan kuat sekali ] 

Ambalung usus : Ambalung : Meresap ke dalam tulang. Usus : Usus [ Kadang-kadang lentur seperti usus ] Orang yang seringkali semangatnya berubah-rubah. Kadang-kadang kuat, namun kadang-kadang malas.

Ambarung sinang : Ambarung : Mengiringi. Sinang : Kalimat [ Mengiringi dengan kalimat ] artinya Orang yang mengiringi pembicaraan lainnya. Orang yang mengiringi perbuatan atau perilaku orang lain dengan menggunakan kata-kata.  

Ambata rubuh : Bata : Batu bata, Rubuh : Roboh. [Seperti tumpukan batu bata yang mau roboh ] artinya Suara gegap gempita secara serempak. Orang yang mengawinkan dua atau tiga anak sekaligus bersama-sama dalam satu hari.

Ambegal sambi anganyang : Ambegal : Merampas, merampok, menyamun. Sambi : Sambil. Nganyang : Menawar [ Merampok sambil menawar ] artinya : Pencopet yang menyamar menjadi pembeli ( di toko, di pasar atau pusat pembelanjaan ) Pencuri di pabrik yang menyamar sebagai pegawai di pabrik itu.

Ambidhung api rowang : Ambidhung : Menggoda, mengganggu. Api : api. Rowang : Teman atau kawan [ Berpura-pura sebagai teman ] artinya Berpura-pura sebagai teman dan akrab padahal memiliki niat jahat   

Ambles atilar dana : Ambles : Masuk ke dalam tanah / air. Atilar : Meninggalkan. Dana : Uang [ Masuk ke dalam lalu meninggalkan uang ] Orang yang mempunyai perkara dalam pengadilan, lalu masuk dan memberikan uang kepada hakim untuk maksud dan tujuan tertentu ( memberikan sogokan )

Baladewa ilang gapite : Baladewa : Nama tokoh wayang yang mempunyai sifat pemarah. Ilang : Hilang. Gapite : Tangkai penjepit [ Seperti Baladewa kehilangan tangkai penjepit ] Artinya : Seseorang yang kehilangan semangat hidupnya karena sudah tidak berkuasa lagi. Seseorang yang kehilangan keberaniannnya karena ketahuan cacadnya ( kelemahan atau aibnya )


B

Bapa kasulah anak kapolah : Bapa : Bapak / ayah. Sulah tombak : Mati ditombak. Kapolah ; Tanggung jawab [ Bapak mati terkena tombak, anak bertanggung jawab ] artinya : Jika orang tua meninggal, maka anak harus bertanggung jawab mengurusi kewajibannya yang belum diselesaikan. 

Basa Kapracadha : Basa : Bahasa / ucapan. Kaprachanda : Diterjang angin ribut [ Ucapan yang diterjang angin ribut ] artinya Hakim yang menerima pengaduan dari seseorang, tetapi belum resmi menggugat ( jadi pengaduan itu tidak berguna sama sekali )

Bebek diuruki nlangi. Bebek : Itik. Diwuruki : diajari. Nglangi : berenang [ Itik diajari berenang ] artinya mengajari orang yang sudah ahli dibidang yang diajarkan

Bebek mungsuh wilis. Bebek : bebek. Mungsuh : Bermusuhan. Wilis : Belibis artinya dua orang yang sangat sakti saling bermusuhan namun yang satu lebih kuat dan cerdik ( belibis )

Bebisik nguwuh-uwuh. Bebisik : Berbisik yang akhirnya mengundang menjadi teriakan  [ Semula hendak melakukan dengan diam-diam / rahasia, tetapi karena kurang hati-hati akhirnya semua orang tahu.

Begja kemayangan. Begja : beruntung. Kemayangan : Amat sangat. [ Orang yang mendapat keberuntungan besar sekali, yang tidak diduga sebelumnya ]

Belah aji. Belah : Dibelah, dibagi dua. Aji : Sangat bernilai. [ Nilainya dibagi dua ] artinya Orang yang merusakkan barang yang lain, diganti dengan nilai yang separuhnya, karena pemiliknya juga ikut bersalah.

Belo melu seton. Belo ; anak kuda. Melu ; ikut. Seton : Setiap hari Sabtu. [ Anak kuda yang seringkali ikut latihan pada hari Sabtu. Orang yang melakukan sesuatu hanya ikut-ikutan saja tanpa mengerti apa yang dilakukannya.

Berbudi bawa leksana. Berbudi : Berbudi luhur, dihormati. Bawa ; ucapan. Leksana : Berjalan / tindakan. [ Orang yang berjiwa besar / berbudi luhur karena ucapan selalu dilaksanakan sampai berhasil / antara ucapan dan perbuatan sama ]

Bima akutha wesi. Bima : Tokoh wayang. Akutha : di dalam benteng. Wesi : Besi [ Bima di dalam benteng besi ] Orang yang mempunyai kekuatan diikuti dengan kemauan yan kuat akhirnya berhasil.

Bocah kurang janganan. Bocah : anak kecil. Kurang janganan : Kurang makan lauk dan sayur-sayuran [ Anak kecil yang kurang makan sayur-sayuran ] artinya Orang yang kurang bernalar dalam menyingkapi suatu permasalahan.

Bocah wingi sore : Bocah : Anak kecil. Wingi sore : Kemarin sore [ Seperti anak kemarin petang ] artinya Seperti halnya orang bodoh yang tidak berpendidikan dan tidak berpengalaman.

Bolu rambatan lemah. Bolu : sejenis tanaman merambat. Rambatan lemah : Merambat di tanah [ Tanaman bolu yangmerambat di permukaan tanah ] artinya Suatu permasalahan yang saling kait terkait dan rumit sekali sehingga sulit diselesaikan hingga dampaknya meluas.

Bondhan tanpa ratu. Bondhan : Menari. Tanpa Ratu : Tanpa pemimpin / raja [ Menari tanpa ada pemimpinnya ] artinya Orang yang bertingkah sesukanya sendiri tanpa mengindahkan aturan yang ada.

Byung-byung tawon kambu. Byung-byung : Suara mendengung. Tawon : Lebah. Kambu : Berduyun-duyun karena mencium bau gula [ Suara mendengung lebah yang berduyun-duyun terbang ] Orang yang hanya mengikuti kegiatan orang banyak, tanpa mengetahui tujuannya.

Buntel kadut ora nginang ora udut. Buntel : Dibungkus. Kadut : Karung goni. Ora nginang : Tidak mengunyah sirih. Ora udut : Tidak merokok [ Sudah dibungkus karung, ditambahi tidak bisa mengunyah daun sirih atau merokok ] artinya orang yang hidupnya sudah miskin dan menderita.

Bungahe kaya nunggang jaran ebeg-ebegan. Bungah : gembira. Nunggang jaran : Naik kuda. Ubeg-ubegan : Kuda kepang [ Gembira seperti menunggang kuda kepang ] artinya karena begitu gembiranya, tingkah lakunya sampai tidak bisa dikendalikan.

Briga-brigi ora ngetehi. Briga-brigi : Membentak-bentak dengan kasar. Ora ngetehi : Tidak menakutkan atau menyeramkan [ Membentak-bentak namun tidak menakutkan ] artinya Orang yang peranginya nampak menakutkan, tetapi sebenarnya hanya gertakan saja, jika dilawan takut juga.

Bramana mangun lingga. Bramana : Kumbang. Mangun : Membangun. Lingga : Tubuh / badan [ Kumbang membangun tubuh ] artinya laki-laki yang berlagak tampan di depan perempuan.

Brama corah. Brama : Api. Corah : Jahat [ Api yang jahat ] artinya Penjahat yang saling berkelahi lalu menggugat ke pengadilan  - Orang yang menuduh orang lain melakukan pencurian padahal yang didakwa sudah lama sembuh dari mencuri.

Brakatha angkara geni. Brakatha : Laron, kelekatu. Angkara : Tamak. Geni : Api [ Laron yang mati terjebak api karena ketamakannya ] artinya Orang yang terkena musibah ( celaka ) karena tertarik penampilan luarnya saja.


C

Cacah molo. Cacah : perhitungan. Molo : Balok babungan rumah / atap. [ Perhitungan banyaknya rumah tanpa melihat besar kecilnya rumah.

Candhak cekel. Candak : Menangkap. Cekel : memegang. [ Menangkap lalu memegang ] artinya Menahan barang tertentu sebagai jaminan hutang, lalu memperhitungnkan harganya dengan jumlah hutangya. Jika ada selisih lebih akan dikembalikan, jika ada seleisih kurang, maka peminjam tinggal melunasi kekurangannya.

Calak cangkol kendhali bol, cemethi tai. Calak : Mendahului pembicaraan. Cengkol : Pengait. Kendhali : Tali kekang. Bol : Dubur. Cemethi : Cambuk. Tai : Tinja [ Mendahului pembicaraan, menusuk perasaan, tali kekang dari dubur, cambuk dari tinja ] Perbuatan yang tidak sopan dan tidak perlu, karena mendahului pembicaraan yang menusuk perasaan orang lain.

Calawenthah : Calawenthah ; Ugal-ugalan, barlaku kasar, tidak tahu adat. Orang yang bertindak semena-mena.

Caturan ora karuan bongkot pucuke. Caturan : berbicara. Ora karuwan : Tidak karuan, kacau. Bongkot : Pangkal. Pucuk : Ujung [ Berbicara kacau pangkal dan ujungnya ] Orang yang berbicara, berpidato, menasehati namun tidak jelas ujung pangkalnya.

Ceblok alu. Ceblok : Jatuh. Alu : Antan ( penumbuk beras ) [ Seperti antan yang jatuh menumbuk ] artinya mengerjakan sesuatu secara bergantian.

Cebol pelikan. Cebol : Orang pendek / katai. Pelikan : Barang tambang [ Orang cebol mencari barang tambang ] Sudah orangnya cacat, pekerjaannya pun juga hina.

Cecak nguntal empyak. Cecak : Binatang cicak. Nguntal empyak : Makan / menelan atap rumah.  artinya mempunyai cita-cita yang tidak sesuai dengan kekuatan atau kemampuannya.

Cilik diitik-itik, bareng gedhe dipasang benik [ Cilik diitik-itik : Sewaktu kecil dibuatkan lobang kancing. Bareng gedhe dipasang benik : Setelah besar dibuatkan kancing  ]  artinya Sewaktu kecil dipelihara, dirawat dan disayang, setelah besar dinikahi orang lalu dibawa pergi.

Cinancang ing jantung. [ Ditambatkan di jantung ] artinya Orang yang sangat dicintai sehingga tidak dapat melupakan wajahnya, barang sekejap matapun.

Cinanthaka Candra [ Lancang di terang bulan ] artinya Orang yang melakukan tindak kejahatan di waktu malam, terang bulan, tertangkap lalu dipukuli oleh penduduk, sampai babak belur.


D

Dadi kembang lambe [ Menjadi bunga bibir ] artinya Dimana-mana menjadi bahan pembicaraan banyak orang karena suatu alt asan  bisa karena kecantikannya, ketampanannya, kedermawanannya, budi pekertinya, kejahatannya, kekejamannya ataupun karena tingkah lakunya.

Dagang tuna adum bathi [ Berdagang rugi karena membagi untung ] artinya Orang yang memiliki atau melakukan kebaikan namun tidak secara langsung, namun melewati orang lain.

Dalan gawat, becik disimpangi [ Jalan berbahaya sebaiknya dihindari ] artinya Orang yang sulitt diajak berteman sebaiknya dihindari.

Denta denti kusuma warsa sarira cakra [ Gading atau gigi yang tumbuh tidak bisa dibenamkan lagi, bunga yang mekar tidak bisa dikuncupkan lagi, hujan yang turun tidak bisa dinaikkan lagi. Sifat asli dari keadilan yang benar tidak bisa disalahkan, yang salah tidak bisa dibenarkan. Jika direkayasa untuk dibolak-balik juga bisa, namun sifatnya hanya sementara saja. Cepat atau lambat akan kembali ke sifat aslinya.

Dhadap ketuwung cangkir [ Pohon dhadap yang ditumbuhi duri ] artinya Permufakatan yang sudah mencapai persetujuan, tiba-tiba gagal lagi karena ada pihak lain yang ikut campur. 

Dhalang kerubuhan panggung [ Dalang yang tertimpa layar wayang ] artinya Orang yang menemui kesulitan karena ucapannya sendiri.

Dhandang tumrap ing kayon [ Burung gagak hinggap di pohon ] Hakim yang ingin mengadili perkara tertentu. Orang yang memancing pertengkaran dengan menuduh-nuduh orang. Tidak jelas siapa yang dituduh.

Dalang nangsa kurangan lakon [  Dalang masakan sampai kehabisan cerita ] Orang yang cerdik biasanya tidak akan kekurangan alasan atau cerita meskipun dalam keadaan terpojok sekalipun

Dhandang ngelak [ Seperti burung gagak yang haus ] Orang yang mengharapkan sesuatu yang buruk menimpa orang lain.

Dhodok acung-acung [ Meskipun duduknya jongkok namun jarinya mengacung ] Meskipun dalam pergaulan terlihat baik, tetapi dia memiliki penunjuk tempat yang akan dicuri. Meskipun dalam perbincangannya bersikap baik, tetapi diam-diam menjadi penebar gunjingan buruk.


E

Edom sumurup ing banyu [ Jarum yang menyusup di air ] artinya orang yang menyusup di daerah musuh dengan melakukan penyamaran / mata-mata.

Eduk sandhing geni [ Ijuk yang berdekatan dengan api ] Laki-laki atau perempuan yang sering berdekatan dengan lawan jenisnya dan cenderung melakukan perselingkuhan.

Embat-embat clarat [ Yang satu digendong dengan selendang, yang satu digendong menggunakan kulit bambu ] Pemimpin yang tidak bersikap adil terhadap anak buahnya / Orang tua yang tidak bersikap adil terhadap anak-anaknya.

Embuh si nila, embuh si etom [ Yang buruk entah nilanya atau tarumnya ] Orang yang suka menceritakan keburukan orang lain, padahal dirinya sama buruknya.

Endhas gundul dikepeti [ Sudah kepalanya gundul masih saja dikipasi ] Keadaan dimana seseorang yang berada dalam keberuntungan. Sudah senang hidupnya, mendapat kebahagiaan lagi.

Endhog sapetarangan, pecah siji, pecah kabeh [ Telur satu sangkar, pecah satu, pecah semua ] artinya Sumpah setia satu keluarga ( satu perguruan ) Jika satu menderita yang lain ikut juga menolong. Jika salah satu berbahagia, yang lain juga ikut merasakannya.      

Estri nancah gandir nancah [ Istri yang berbelok semakin tidak dipercaya maka akan semakin berbelok ] artinya istri yang berselingkuh dengan lelaki lain, namun tetap mengambil uangnya untuk diberikan kepada lelaki selingkuhannya tersebut.

Enggok-enggok lumbu [ Bergoyang-goyang seperti halnya daun keladi ] artinya Orang yang melakukan sesuatu hanya ikut-ikutan orang lain, dia tidak memiliki pendirian sendiri.     

Esuk dele sore tempe [ Pag kedelai, sore kedelai ] artinya Orang yang ucapannya seringkali berubah-ubah, perkataannya tidak bisa dipegang.

Entek ngamek. kurang golek [ Dari mengambil sudah habis, dari mencari sudah kurang ] artinya Betul-betul sudah kehabisan, sehingga tidak bisa dipergunakan lagi.


G

Gadhangan jago patohan [ Ayam jantan yang tidak pernah kalah dalam bertanding maka pantas untuk dicalonkan ] artinya Seorang pemberani dan berbudi mulia, bukan pemalas dan bukan penakut, pantas untuk dicalonkan.

Gagah kejibah, mingkuh ketempuh  [ Karena gagah, dia berkewajiban, karena menghindar, dia bertanggung jawab ] artinya Orang yang terpaksa melakukan pekerjaan [ tugas ] karena semula dia sudah menyanggupinya

Gajah alingan suket teki [ Gajah bersembunyi di balik tumpukan rumput teki ] artinya Orang yang berpura-pura ( ucapan atau hatinya tidak sama , akhirnya ketauan juga maksudnya.

Grubyug lutung [ Selalu bersama-sama seperti halnya kera hitam ] artinya Orang banyak berlarian kesana-kesini tidak tahu tujuan dan penyebabnya, hanya ikut-ikutan orang lain.

Gora getih nemu riris [ Darah mengalir banyak bertemu dengan air hujan ] artinya Orang yang berkelahi di tempat orang lain, hingga luka dan berdarah. Kemudian dilerai dengan orang yang mempunyai tempat itu, tetapi yang empunya tempat juga mengalami luka dan banyak berdarah.

Greget-greget suruh [ Berkeinginan mengunyah daun sirih ketika melihatnya  ] artinya Orang yang tidak sabar menahan gejolak hatinya, ketika melihat sesuatu yang diinginkannya.

Glugu ketlusuben luyung [ Pohon kelapa kemasukan pohon enau ] artinya Sekelompok orang baik-baik, masuk ke dalam kelompok orang jahat.

Golek klimising lambe [ Mencari mengkilapnya bibir ] artinya Orang yang mencari keuntungan dirinya sendiri, dengan menggunjing keburukan orang lain, serta memuji-muji kebaikan lawan bicaranya.

Golek karo epek-epek [ Mencari seseuatu dengan telapak tangan ] artinya Orang yang bekerja hanya badannya saja, tanpa menggunakan peralatan apapun.

Glundhung suling [ Menggelinding seperti suling ] artinya Laki-laki yang kawin tanpa membawa harta benda ( hanya membawa badan dan bajunya yang menempel )

Gumendheng ora goreng [ Bunyinya nyaring dan keras namun tidak bisa menggoreng ] artinya Perempuan yang tidak bisa memasak namun berlagak pandai.

Gupak pulut nanging ora mangan nangkane [ Berlumuran getah nangka namun tidak ikut makan / mendapatan nangkanya ] artinya Berusaha bersusah payah, namun tidak ikut merasakan hasilnya


H

Harda walepa [ Congkan yang teramat sangat ] artinya Orang yang tidak punya sopan santun / kurang ajar.

Her gung raja mana nung ( manah anung ) [ Raja yang mulia hatinya seperti halnya air yang luas ] artinya Seseorang yang kaya dan kedudukannya tinggi, berbudi mulia, murah hati, santun terhadap sesama.

Hyang kalingga surya [ Dewa bertubuh matahari ] artinya Seorang pemimpin yang bijaksana, selalu membimbing rakyatnya ke arah jalan yang terang.


I

Idu didilat maneh [ Menjilat ludahnya sendiri yang sudah dikeluarkan ] artinya Menarik kembali ucapan yang pernah dikatakan / Menarik kembali janji yang pernah dikatakan.

Idu geni [ Ucapannya selalu dipatuhi orang lain / apa yang dikatakannya sudah pasti terjadi ]

Ilang jarake kari kaile [ Hilang jaraknya tinggal buruknya ] artinya Hilang sifatnya yang bijaksana tinggal sifatnya yang buruk dan hina.

Ina diwasa mangangsa-angsa [ Masa dewasa yang hina karena berlaku tamak ] artinya Orang dewasa yang tidak waspada pada perilaku anak-anaknya, sehingga ketika dewasa berlaku serong yang menyebabkan hidupnya tercela.

Iwak klebu ing wuwu [ Ikan yang terperangkap ke dalam bubu ] artinya Orang yang dengan mudah terperangkap ke dalam tipu daya musuh.

Ina sandi pralena [ Cela rahasia karena ceroboh ] artinya  Orang yang melakukan sesuatu yang sifatnya rahasia dengan cara yang ceroboh, sehingga malah mencelakakan orang lain.

Ina sabda [ Ucapan yang nisa ] artinya Orang yang kehilangan sesuatu namun tidak ada saksi atau orang yang melihatnya.

Ina kulina [ Hina karena senang ] artinya Orang yang menemukan barang milik orang lain, namun karena sangat senangnya dia tidak memberitahukan empunya atau melaporkan kepada orang lain.

Ina pralaga [ Hina karena bertengkar ] artinya Orang yang mempertengkarkan sesuatu tanpa disertai dengan saksi atau bukti.

Ina sabda pralena [ Celaka karena ucapannya sendiri yang hina ] 


J

Janma tan kena angina [ Orang yang tidak bisa dihina ] artinya Tidak bisa menilai kemampuan seseorang hanya dari penampilan luarnya saja 

Janma mati murka [ Orang yang mati karena tamak ] artinya Orang yang mati menderita karena tidak mampu mengendalikan nafsu ketamakannya.

Jangkrik mambu kili [ Seperti jangkrik tersentuh penggeli ] artinya Dasar orang yang pemarah ditambah mendapat hasutan ( yang membangkitkan amarah )

Jamur tuwuh ing waton [ Cendawan tumbuh di bebatuan ( biasanya jamur tumbuh di tempat yang becek atau lembab ) ] artinya Kebahagiaan yang mustahil untuk diraih.

Jalak mempan [ Burung jalak yang mengenyam saragnya ] artinya Melakukan pekerjaan sedikit demi sedikit sampai selesai barulah mengerjakan pekerjaan yang lainnya

Jaka kencur [ Jejaka seperti ubi kencur ] artinya perjaka yang belum dewasa

Jenang dodol tiba ing wedhi [ Kue dodol yang jatuh di pasir ] artinya Suatu rencana yang sudah matang dan disepakati oleh semua pihak, tiba-tiba ada yang mengacaukan sehingga terpaksa batal dilakukan.

Jurang grawah ora mili [ Jurang besar airnya tidak mengalir ] artinya Orang yang mudah mengumbar janji, mudah pula mengingkarinya, biasanya tidak ada kenyataannya.

Jumambak manak, jumebeng meteng [ Jika rambutnya tumbuh, maka mulailah dia hamil, jika rambutnya panjang bisa direnggut, maka dia melahirkan ] artinya Perempuan yang bisa dikatakan setiap tahun hampir memiliki anak.

Jinabung alus [ Direkatkan seperti halnya kayu yang utuh ] artinya Ditipu dengan cara yang halus, sehingga yang ditipu tidak menyadarinya, tetapi malah merasa mendapatkan keuntungan.

Jeminul kaya kenul [ Liat seperti nasi liwet ] artinya Orang yang keras kepala dan tidak mau menerima nasehat orang lain

Jeksa pring sadapur [ Jaksa seperti bambu satu rumpun ] Jaksa penuntut atau hakim yang mengadili masih ada hubungan keluarga dengan terdakwa.


K

Kabegjan, kabrayan [ Kebahagiaan, keberuntungan ] artinya Orang kaya yang hidupnya bahagia, ditambah lagi selalu dikelilingi kerabat dan saudara-saudaranya.

Kabali swara [ Suara yang berbalik ] artinya Orang yang digugat dan membalas digugat.

Kajugrukan gunung menyan [ Tertimpa gunung menyan yang roboh ] artinya Tidak diduga sekali mendapatkan kebahagiaan yang besar.

Kalilangan lacak [ Kehilangan jejak ] artinya Orang yang mencari penjahat atau pencuri namun kehilangan jejaknya

Kahusti sabda pralaya [ Mati karena ucapan atau apa yang dikatakannya ] artinya Pencahat yang mati karena ucapannya sendiri.

Kaedus banyu siwur [ Dimandikan dengan air satu gayung ] artinya Pembagian yang tidak mencukupi. Yang dibagikan sedikit yang menerima banyak orang.

Kaduk ati bela tampa [ Hatinya terlalu berlebihan dalam menerima ucapan orang lain ] artinya Karena terlalu dalam menafsirkan sehingga timbullah salah paham.

Kadang tunggal welad [ Bambu yang berbentuk pipih dan berfungsi untuk memotong tali pusar bayi ] dalam tradisi Jawa, welad ini disimpan dan digunakan untuk memotong tali pusar ketika besok adiknya lahir.

Kacocog ing carang landhep [ Tertusuk oleh ranting bambu yang runcing ] artinya Tertusuk oleh tusukan senjata tajam - saat berperang atau berkelahi.

Kandhang langit kemul mega [ Orang yang tidak memiliki tempat tinggal dan berpindah-pindah ] Bisa juga mempunyai arti, orang yang tidak mempunyai banyak teman, karena kurang pergaulan.

Kalingga ubaya [ Tertutup oleh janji ]  artinya Suatu perkara yang tidak dapat dilaksanakan karena sudah kalah dengan janji sebelumnya.

Kala daraki dyah [ Raksasa jahat menyetubuhi wanita ]  artinya Laki-laki yang jahat melecehkan wanita yang tidak berdaya

Kakehan kokok-kikik [ Terlalu banyak pemimpin, penjahat dan anjing kecil ]  artinya Terlalu banyak tingkah, terlalu banyak tuntutan ( rewel ) Sering berubah-rubah keinginannya.

Kalya amiruda ing nata [ Jaksa menuntut perkara menyimpang dari titah raja ]  artinya Haim memutuskan perkara tanpa memberitahukan kepada raja.

Kapedhotan wiji [ Terputusnya karena kehabisan biji ]  artinya Orang yang tidak memiliki anak baik itu karena meninggal atau memang tidak bisa memiliki keturunan.


L

Luput pecing [ Meleset dari bau anyir ]  artinya Orang yang kuat tekadnya sehingga tidak mudah untuk dicegah atau dihalangi

Luput sembur [ Terhindar ketika disembur ]  artinya Orang yang tidak bisa dicegah sampai keinginannya terlaksana atau selesai. Orang yang selalu terhindar dari sakit ( berkat doa-doa yang ditiupkannya )

Lurung buntung [ Lorong  buntu ]  artinya Menuduh orang melakukan kejahatan, tetapi tidak ada saksi atau bukti sehingga perkaranya tidak dapat dilanjutkan

Lung-lungan punggel kidang paul [ Tanaman yang merambat yang sudah putus akan tetapi tiba-tibanya kijangnya tumbuh kembali ]  artinya Suatu ( barang, uang, dll ) sudah berkurang, masih akan dikurangi lagi.

Lukita basa [ Mengarang bahasa ] artinya Orang yang sedang menggagas atau sedang merangkai kata-kata yang patut untuk diucapkan

Luhur ngungkuli langit [ Tinggi melampaui langit ] artinya Orang yang sangat mulia kedudukannya

Loro sawudon, telu saurupan [ Taruhan bernilai dua kali atau tigakalinya hanya berbanding satu ] artinya Orang yang budi pekertinya nista, tiada berguna di masyarakat.

Lumpat kidang [ Melompat-lompat seperti kidang ] artinya  Orang mengerjakan sesuatu tidak berurutan, sebagian sudah, sebagian belum, lalu ditinggalkan dan mengerjakan yang lain.

Liru lambang [ Saling bertukar ] artinya Dua barang atau lebih yang keliru bertukar tempat karena bentuknya hampir sama.

Lanang kemangi [ Laki-laki seperti daun kemangi, pantasnya hanya untuk lalapan ] artinya Laki-laki yang memunyai sifat lemah, tidak mempunyai pendirian dan penakut.

Lambe satumang kari samerang [ Bibir setebal bibir tungku, akhirnya tinggal setebal tangkai padi ] artinya Sudah dinasehati ( dimarahi ) berulang kali, tetap saja tidak bisa merubah tabiatnya.

Langkah kili [ Melangkahi bulu penggelitik ] artinya Orang yang lancang dalam tindakan dan perkataan

Lebak ilining banyu [ Dataran rendah tempat mengalirnya air ] artinya Biasanya kesalahan pemimpin ditimpakan kepada anak buahnya.

Leledhang nemu pedhang [ Hanya bercengkerama, tiba-tiba menemukan pedang ] artinya Orang yang mendapat keberuntungan tanpa disengaja.

Legon lemar, luput katiwar [ Tunas dan daun pohon kelor tidak akan terlantar ] artinya Sesuatu yang bisa dimanfaatkan ( diambil faedahnya ) tidak akan dibuang. Orang yang mempunyai keahlian meskipun tidak kaya biasanya tidak akan terlantar hidupnya.

Legine angemut gula [ Manisnya orang mengulum gula ] artinya Orang yang dipercaya menjaga [ menyimpan ] harta benda, tergiur untuk memiliki sesuatu atau mengambil sebagian.

Loro sawudon, telu saurupan [ Taruhan yang bernilai dua kali atau tigakali berbanding dengan satu ] artinya Orang yang budi pekertinya nista, tiada berguna di masyarakat.


M

Madal Pasilan [ Menjejakkan perintah atasan ] artinya Orang yang meninggalkan pertemuan tanpa memohon diri terlebih dahulu

Madaya katinggal ing rupa [ Hendak memperdaya agar nampak wajahnya yang baik ] artinya Penjahat yang berpura-pura menjadi orang yang baik.

Madu angin [ Mempertengkarkan angin ] artinya Orang yang mempertengkarkan sesuatu yang tidak bermanfaat

Madu balung kepesing [ Bertengkar memperebutkan tulang belulang, meskipun sedang tidak tahan ingin buang air besar ] artinya Orang yang bertengkar memperebutkan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Maha kirda [ Menyengaja bersanggama ] artinya Orang yang sengaja melakukan perbuatan zina

Maha pralaya [ Dengan sengaja memuliakan yang telah mati ] artinya Orang yang menghormati wasiat ( amanat atau pesan ) orang yang sudah meninggal, dan tidak mau menuruti nasehat orang yang masih hidup. Orang yang sedang berperkara di pengadilan, bersandar pada wasiat ( amanat, pesan ) yang telah meninggal.

Malaikat malik bumi [ Malaikat membalikkan bumi ] artinya Orang yang bertengkar dengan dalih yang berubah-rubah sehingga menyulitkan diri sendiri.

Malang-malang tanggung [ Malang melintang menyulitkan ] artinya Orang yang sifatnya serba menyulitkan orang lain.

Malik klambi [ Membelikkan baju ] artinya Dihadapan raja atau pemimpinnya ia menyatakan setia, tetapi diam-diam dia membantu atau bersekutu dengan musuh.

Maling anamur tilas [ Pencuri yang menyamarkan jejaknya ] artinya Penjahat yang menghapus bukti-bukti kejahatannya.

Mendhak alingan padhang [ Merendahkan badan untuk bersembunyi di belakang tabir yang tembus pandahng ] artinya Orang yang bermaksud menyamar, akhirnya ketahuan juga oleh masyarakat.

Medot raketan [ Memutuskan persaudaraan ] artinya Masih sesama kerabat saling gugat sehingga memutus rantai persaudaraan. 

Megat ing upas [ Merintangi ke racun ] artinya Orang yang sengaja merintangi orang lain yang akan melacak jejak penjahat

Melik nggendong lali [ Ingin memiliki dan menggendong sampai lupa ] artinya Terdorong keinginan kuat untuk memiliki sampai lupa, sehingga lupa sampai melanggar tata-cara atau aturan hukumnya 


N

Nandur wiji keli [ Menanam biji yang hanyut ] artinya Merawat keturunan bangsawan yang hidupnya menderita

Nantang weya [ Menantang tidak berhati-hati ] artinya Orang yang berjalan di malam hari namun tidak membawa lampu penerangan dan ditangkap orang yang mengejar penjahat ( dikira penjahat )

Natas tali gumantung [ Memutuskan tali yang menggantung ] artinya Putusan hakim yang tidak dapat dilaksanakan sehingga perkaranya masih menggantung

Nemu kuwuk [ Orang yang bertemu dengan musuhnya ]

Ngadhep celeng boloten [ Berhadapan denga babi hutan yang kotor dan berdaki ] artinya bergaul dengan penjahat yang lama-lama ikut menjadi penjahat

Ngalasake negara [ Menganggap negara seperti halnya hutan ] artinya Orang yang berkehendak sesuka hatinya, tanpa menghiraukan hukum dan tata aturan yang berlaku di masyarakat.

Ngandhut godhong randhu [ Mengandung daun randu - mengandung lendir yang licin ] artinya Seseorang yang ucapannya tidak bisa dipercaya dan sering berubah-ubah.

Ngalem legining gula [ Memuji manisnya gula ] artinya memuji kekayaan, kelebihan, kepandaian orang lain.     

Ngangggo empan papan [ Pertimbangkan dulu cara melakukan dan tempatnya ] artinya Jika akan melakukan sesuatu ( mengatakan sesuatu ) pertimbangkan dulu cara dan tempatnya, agar tidak melukai perasaan orang lain.

Ngangsu banyu ing kranjang [ Mengambil air menggunakan keranjang ] artinya Berguru dan mencari ilmu tetapi tidak pernah digunakan 

Ngantuk nemu kethuk [ Mengantuk menemukan kethuk ] artinya  Orang yang tidak ikut bekerja keras tetapi mendapatkan bagian yang lebih besar

Ngaturaken kidang lumayu [ Menyerahkan kidang / kijang yang sedang berlari ] artinya Menyampaikan suatu keinginan yang mustahil untuk dipenuhi.

Ngayah aruna [ Hanya kira-kira menurut terangnya hati ] artinya Hakim yang memutusakan perkara hanya menuruti keinginan / pikirannya sendiri, tanpa berunding dulu dengan hakim anggota lainnya.

Ngaru napung [ Menanak nasi dengan mengaru atau menapung sekaligus ] artinya Orang yang pikiran maupun tindakannya membingungkan karena sedang memikirkan banyak persoalan.

Nyidra asmara [ Membunuh umur ] artinya membunuh dengan cara yang licik 


O

Ora nduwe udel [ Tidak memiliki pusar ] artinya Orang bodoh

Ora gembring ora waring [ Kain kasa yang menerawang dan halus ] artinya Tidak memakai kain tipis dan tidak memakai kasa. Orang yang sangat miskin

Ora kena dicekel buntute [ Tidak bisa dipegang ekornya ] artinya Orang yang sangat sibuk, sehingga sulit sekali untuk bicara ( bertemu ) sebentar saja dengannya

Ora mambu wong lanang [  Tidak berbau laki-laki ] artinya Laki-laki yang bertingkah laku seperti halnya perempuan

Ora mambu sega jangan [ Tidak berbau nasi dan sayuran ] artinya Tidak ada hubungan saudara sama sekali

Ora ngilo githoke [ Tidak bercermin pada tengkuknya ] artinya Orang yang tidak berkaca diri.Orang yang suka mencela orang lain, padahal dirinya sendiri lebih buruk.

Ora nrima ing pandum [ Tidak bisa menerima hasil pembagian ] artinya Orang yang tidak puas dengan hasil pencapaian di dalam kehidupannya.

Ora uwur ora sembur [ Tidak menabur juga tidak menyemburkan ] artinya Tidak membicarakan sedikitpun masalah.    

Ora weruh endhas trasi [ Tidak mengetahui kepala terasi ] artinya Laki-laki yang tidak mau tahu urusan ( keperluan perempuan ) di dapur

Ora thothok ora jawil [ Tidak mengetok, tidak mencolek ] artinya Orang yang mengadakan hajatan tetapi tidak mengundang tetangganya. 

Ora ngerti kenthang kimpule [ Tidak mengerti yang mana kenthang dan mana kimpul ] artinya Tidak mengerti duduk perkaranya. Tidak mengerti apa yang dibicarakan.


P

Palang mangan tandur [ Pagar makan tanaman ] artinya Orang yang dipercaya menjaga atau merawat barenang berharga namun merusakkannya

Paksi angkara asmana  [ Burung tamak tertangkap oleh pemikat ] artinya Orang yang mendapat kesengsaraan ( penderita, kesusahan dll ) karena ketamakannya sendiri.

Prawan kencur [ Gadis seperti rempah-rempah sunti ] artinya gadis yang masih kecil dan belum menstruasi

Prawata bramantara [ Gunung yang mengeluarkan belerang panas ] artinya Menggunjing keburukan orang lain, hingga menimbulkan kegaduhan orang banyak.

Pidak sikil jawil mungkur [ Menginjak kaki, mencolek lalu membelakangi ] artinya Orang yang mengadakan kesepakatan secara rahasia dengan musuh atau saingan.

Punuk ati [ Hatinya mengembang seperti halnya kelasa ] artinya Orang yang senang dipuji di hadapan orang banyak.

Pupuk bawang [ Sering dipakai obat untuk masuk angin anak kecil ] artinya Keberadaannya hanya sekedar pelengkap saja. Belum masuk hitungan. Masih disamakan dengan anak kecil.

Punjul ing apapak [ Menonjol di tempat yang rata ] artinya Orang yang memiliki kelebihan, keterampilan, kepandaian dibanding sesamanya.

Pringga raksa [ Berjaga-jaga agar tidak timbul kesulitan ] artinya Orang mendengar dirinya yang akan digugat, lalu mendahului dan menggugatnya dalam pengadilan.

Pupur sadurunge benjut [ Merencanakan dengan matang sebelum melakukan / melaksanakannya ]  


Baca juga : Ucapan selamat pagi bahasa Jawa halus dan artinya

Peribahasa Jawa memang mengandung banyak makna dan mengandung filosofi. Semoga dengan artikel ini bisa membantu anda sekalian memahami dan mengerti beberapa peribahasa jawa yang sering digunakan di masayarakat.  Mari bersama kita lestarikan budaya dan bahasa daerah kita masing-masing.

Belum ada Komentar untuk "200+ Peribahasa Jawa dan Artinya [ Sindiran, Nasehat & Kesabaran ]"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel