Skip to main content

7 Kunci Kebahagiaan Orang Jawa yang Perlu Kamu Ketahui

Menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan adalah dambaan setiap orang. Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang hidup bahagia, diantaranya adalah : memiliki kesehatan yang prima, memiliki keluarga yang harmonis, jabatan yang tinggi serta finansial yang cukup. Namun bagi masyarakat Jawa, selain beberapa hal yang telah disebutkan diatas, masih ada beberapa faktor lagi yang dipercaya bisa mendatangkan kebahagiaan bagi seseorang. 

7 Kunci Kebahagiaan Orang Jawa yang Perlu Kamu Ketahui


Kebahagiaan tidak hanya diukur dengan harta ataupun kedudukan yang kita miliki, melainkan juga peran kita di dunia ini. Hal itulah yang membedakan cara pandang masyarakat Jawa dengan masyarakat pada umumnya. Nah menurut serat Pustaka Raja Purwa karya R.Ng. Ranggawarsita, seseorang akan mengalami kebahagiaan tergantung 7 hal yaitu :   
1. Kabegjan
Apakah anda pernah mendengar istilah begja, atau sering orang menyebutnya sebagai bejo ? Kabegjan dalam bahasa Jawa mempunyai arti keberuntungan. Keberuntungan disini bukan keberuntungan yang datang dengan sendirinya melainkan keberuntungan yang didapatkannya dari usaha dan bekerja. Orang Jawa percaya bahwa kabegjan bisa saja kita peroleh dengan disertai dengan watak yang sabar, bisa menerima keadaan, tidak boros atau istilah dalam bahasa Jawanya "gemi", nastiti ( memelihara miliknya secara hati-hati ) serta ati-ati ( berhati-hati dalam berusaha ). Selain itu, ada yang berpendapat bahwa keberuntungan akan hilang apabila seseorang itu mempunyai beberapa kebiasaan yang dianggap sebagai kebiasaan buruk. Sebagai contoh : Lerweh : Gemar meninggalkan barang di sembarang tempat serta Ngebreh : mengeluarkan harta benda tanpa perhitungan    


2. Kabrayan
Kabrayan mempunyai arti memiliki banyak keturunan. Mungkin cara pandang ini berbeda dengan jaman sekarang. Pada jaman dahulu memang ada anggapan banyak anak, akan mendatangkan banyak rejeki. Orang yang memiliki banyak anak akan lebih tenteram hatinya serta khawatir di hari tua, karena akan ada yang merawat dan memelihara dirinya. Hal ini akan tercipta apabila seseorang berwatak asih terhadap anak cucunya serta sesamanya. Namun saat ini hanya sedikit saja yang masih beranggapan demikian. Hal itu dikarekan tuntutan jaman sekarang lebih kompleks. Dimana biaya hidup dan biaya pendidikan yang tidak murah, terlebih tentang pendidikan, yang menjadi layaknya sebuah kebutuhan pokok bagi generasi masa kini.

3. Kasinggihan
Kasinggihan memiliki arti mendapatkan posisi terhormat di lingkungan sekitarnya. Posisi terhormat tidak bisa disamakan dengan jabatan sosial ataupun jabatan dalam bidang pemerintahan. Posisi terhormat bisa saja dicapai dengan peran seorang dalam hidup bermasyarakat. Ini bisa diupayakan dengan laku nastapa ( prihatin ) dan laku teteki ( mencegah hawa nafsu ). Selain itu, akan jauh lebih baik apabila diimbangi dengan sikap ketaatan dalam menjalankan ibadah dan sikap merendahkan diri sendiri.

4. Kagunan
Kagunan memiliki arti yakni kepandaian atau keterampilan hidup.  Kepandaian dan keterampilan bisa didapatkan dengan pendidikan formal maupun pendidikan informal. Selain itu bisa saja kepandaian yang dimiliki diperoleh dari sikap yang rajin ( taberi ), mau berusaha serta ulet. Orang akan berbahagia apabila dia bisa menggunakan kepandaian atau keterampilan yang dimilikinya untuk mendatangkan manfaat bagi dirinya, keluarga serta orang lain.

5. Kayuswan 
Kayuswan memiliki arti panjang umur. Beberapa orang berpendapat, yang menyebabkan panjang umur diantaranya adalah kesucian budinya, watak serta tingkah lakunya sehari-hari. Selain itu keluarga terutama memiliki anak yang berbakti kepada orang tua juga dipercaya bisa membuat panjang umur seseorang.

6. Kasuruan
Memiliki arti keberanian. Keberanian yang menyebabkan seorang terhormat dan berwibawa. Rasa ini akan terkikis apabila seseorang berani menganiaya pihak lain. Jika posisi terhormat untuk memperdaya pihak lain, akan menyebabkan namanya jatuh dan akan kembali ke rasa susah.

7. Kawidagdan
Memiliki arti selamat hidupnya. Hal ini bisa disebabkan karena watak suci dan mencegah makan minum serta watak paramarta. Yang menjadi penghalangnya adalah watak hina dan mudah marah.

Baca juga :



Apabila seseorang mampu menjalankan 7 hal tersebut akan terasa bahagia hidupnya. Sebaliknya, apabila tujuh hal tersebut hanya terlaksana beberapa saja atau bahkan tidak terlaksana sama sekali, perasaan seseorang akan sedih terus menerus serta seseorang akan semakin nelangsa hidupnya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar