Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

35 Puisi Tentang Hujan Singkat - Sedih, Rindu dan Kenangan

Puisi tentang hujan - Peristiwa hujan memang seringkali menjadi sumber inspirasi bagi beberapa orang untuk menciptakan sebuah karya puisi. Sebagai contoh puisi hujan bulan Juni yang diciptakan oleh pujangga atau sastrawan Indonesia yakni Sapardi Djoko Damono, dan pada akhirnya bertransformasi menjadi sebuah novel. Karya itu begitu terkenal dan legendaris bahkan dalam waktu berpuluh-puluh tahun lamanya.

Puisi Hujan

Baca juga : 20 Puisi Desaku yang Kucinta

Tidak hanya puisi saja, karya sastra lain seperti novel, prosa, sajak banyak kita jumpai dengan tema hujan. Beberapa mengaitkan hujan dengan kenangan ataupun kerinduan seseorang terhadap orang yang dicintainya. Lain halnya dengan hujan yang membawa kesedihan karena menimbulkan bencana. Peristiwa seperti ini dapat kita jumpai dalam karya puisi anak SD

Bagi pembaca yang saat ini mencari contoh puisi tentang hujan singkat, puisi hujan dan rindu, ataupun puisi hujan dan kenangan, admin telah merangkumnya dalam postingan berikut ini. Berikut contohnya : 


 Contoh Puisi Tentang Hujan

 

Puisi Tentang Hujan Singkat

Gerimis

Rintik-rintik air hujan
Suara gemericik air pancuran
Angin sepoi terasa dingin mencekam
Menggigit terasa sampai ke tulang

Air mengalir memenuhi halaman
Dedaunan menarik bak jaipongan
Pepohonan bergoyang bergantian
Menambah asik pemandangan

Hujan lagi

Musim hujan turun kini
Gemericik air seperti musik alami
Seiring terdengar suara katak bernyanyi
Melengkapi suasana sepi

Bernyanyi duhai sang katak
Bergembiralah bersama
Nyanyikan lagu gembira
Menghibur hati yang lara

Di Ujung Langit

[ Maliq ]

Langit di ujung atmosfer
Gelap berkeliaran dimana-mana
Marah
Menembakkan tetesan air
Makhluk hidup takut
Tertutup angin

Langit menembak lebih cepat
Banjir
Berjam-jam

Sudahlah
Langit menghentikan semua kesalahan
Langit mengeluarkan tanda baik
Indah
Sampai begitu senang

Mendung

Ini tak sesuai ekspektasi
Kiranya kulihat senyum

Awan kelabu sudah menyelimut
Ku harapsecepatnya tersudahi

Hujan

[ Tio ]
Tetesan air menyerbu bumi
Memaksa sang awan menangis
Smentara butiran bening
Terus menangis di atas tanah

Petir tak berbicara banyak
Hanya angin yang berlari
Menerjang awan

Hujan
Tak terhenti waktu
Seperti rasa yang tertuang  

Puisi Hujan di Bulan Juni

Hujan Bulan Juni

[ Derry Fadly Aditya ]

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Dibalik Hujan

Hujan itu hanya penghapus debu
Bukan rindu
Menghilangkan jejak bukan jarak
Hujan akan tetap sama
Air yg jatuh dari langit
Bukan dari kedua mata 

Memberi dingin 
Bukan dari sikap
Meberi suara
Bukan dari kemarahan
Redahnya pun
Bukan suatu kenangan 
Karna derasnya hanya akan menjadi ancaman

Aku dan Hujan

Biar saja hujan datang lagi sore ini
Karna aku lebih senang berjalan dalam hujan
dalam hujan tak ada yang melihat aku menangis
Dalam hujan aku bebas mengeluarkan airmata  tanpa takut ada yang melihat

Biarkan kaki ini melangkah meski deras hujan menghalangi  pandangan
Bukankah semua harus d hadapi tak perlu berhenti, jangan menyerah dengan keadaan 
Untuk apa berhenti....??

Cukup dalam.hujan aku menangis 
Biar luka ini hanya aku saja yang tahu
Aku tak perlu mereka tahu
Aku tak.perlu belas kasihan mereka

Soreku

Hujan yang membasah di sore ku
Mengemas isi kenang dan rinduku
Basah menyiram air langit turun di senjaku
Alir jauh air hujan sudut genangan muara sungai ku

Untuk mu rasa yang berlalu saja
Ku titipkan bait rindu untukmu
Lewat derasnya hujan di sore senjaku
Aku rindu kamu

Hujan Di Bulan Juni

Hujan di bulan Juni
Ada rintik yang mengikis rindu
Pada dingin yang bekukan kalbu
Ketika malam menatap senja yang berlalu

Pada gerimis yang lalu aku bercerita
Tentang sepotong hati yang engkau bawa
Saat dingin mulai bertahta
Pada jiwa yang meronta

Hujan di bulan Juni,
Hadirkan pilu di setiap genangan
Pada sepenggal kisah yang jadi kenangan
Dua manusia yang saling bertautan

Puisi Hujan di Pagi Hari

Hujan Pagi Ini

Ternyata langit pagi ini tak secerah kemarin
ku ambil gambar ini, untuk mencoret kan
sedikit keindahanmu namun gagal
yang ada hanya rintik hujan
yang jatuh menyiram bumi seisinya
sudahlah!mungkin memang seharusnya

aku berjalan dalam hujan hingga
Orang tak akan tahu aku tersedu,tenggelam dalam kesedihan
orang tak akan mengerti tentang sendu
yang selalu tersirat
walupun berbalur tawa
kalaupun kamu bertanya, sampai kapan?
aku pun tak tahu akhirnya

sudah, sudah biarkan air mata mengalir
biarkan rindu terus menghujam
biarkan rasa ini menjadi mati

Keindahan Pagi

[ Devi Devita ]

Setelah semalam hujan turun derasnya
Pagi ini kubuka mataku
Rasa syukur menyelinap dihati
Karena Engkau masih memberikan
Waktu untuk tetap berada disini

Kubuka jendela kamarku
Udara sejuk mengalir
Seperti aliran darah ditubuh ini
Memberi semangat baru

Cericit suara burung
Mengembang senyumku
Begitu indah pagi ini
Dedaunan hijau muncul
Didahan menggantikan 
Daun tua yg mengering

Memanjakan mataku
Sering aku berfikir tak bisa
Lagi melihat keindahan ini
Setiap kurasakan kesakitan
Namun aku berusaha
Untuk tetap semangat

Aku mau di sisa usia ku ini
Diisi dengan kebaikan  demi kebaikan
Semoga dapat menghapus 
Dosa- dosa yang lalu
Ya Allah  ampuni diriku
Berikan lagi sedikit waktu
Untuk bersyukur &mengingat Mu
Disetiap hela nafasku
Izinkan aku tetap dijalan Mu
Sampai maut menjemput ku

Cerita Terbawa Hujan

Aku perna meminjam kata
Dari sebua nuansa hati digerimis pagi
Hujan turun kelangit sungguh tak terkira
Hingga rongga dadaku tersa dingin
Seketika ku berjalan menuju pulang
Namun langkahku terhembat hujan 

Dari cerita buku yang kupinjam
Tak selaras dengan janji yang 
Selalu ingin dekat denganku
Tapi ternyata apa?
Kau lupakan segalanya
Kau sombongkan hatimu seolah aku yg mrnyakiti hatimu 
Sebelum kau menghakimi keadaanku
Kau tanya dirimu sendiri
Apakau layak kau buat aku dan hatiku 
Seperti ini 

Sepenggal Kisah

[ Siti Narkhayatun ]

Jika mendung tak berarti hujan
Mengapa kau titipkan pelangi 
Di sepenggal kisahku
Walau hujan semalam
Menghapus kemarau setahun
Tapi rinduku tak akan sirna
Meski gempa tektonik mengguncang hatiku
Atau tsunami menerjang tak akan mampu menghanyutkan namamu
di benakku

Tetes Hujan

[ Endang. S ]

Rintik hujan yang gemerincik seakan menjadi nada dalam hati...
seraya mengalunkan irama..
yang selalu memanggil namamu

setiap tetes yang berjatuhan di atas permukaan bumi...
menjadi hitungan dalam angan
yang tak bisa ku genggam..
hanya sepi dan dingin yang kurasakan....

kadang curahanmu tak nampak
tapi membuat basah di sebagian belahan bumi..
begitulah rasa rindu ini yang bersemayam dalam diri.....

Puisi Hujan dan Rindu

Kerinduanku

[ Fyani ]

Gemericik nya hujan menyadarkan lamunan panjangku. 
Ku teringat akan kebersamaan ku denganmu. 
Segala rasa gundah menyelimuti hatiku. 
Apakah kau disana baik-baik saja? 
Apakah kau disana menemukan seseorang yang baru setelah tidak dengan ku? 

Ouh puan bisa kah aku kembali menemukan hatiku yang hilang? 
Hati yang selama bertahun-tahun aku jaga hanya karena aku pikir aku sudah menemukan seseorang yang mampu hidup bersamaku, menjadi tempat berbagi suka dan dukaku. 

Tapi kenyataan memang semenyakitkan  itu.
Kau pulang namun bukan untuk ku
Namun untuk mengenalkan seseorang yang baru. 

Ahh hati tetaplah kuat walaupun batinmu telah tersayat-sayat, biarkan masa lalu mu bahagia dengan orang pilihannya itu. 
Ku yakinkan bahwa setelah tidak denganmu aku juga akan menemukan seseorang yang layak ku sebut sebagai syurgaku

Hujan dan Semesta

Rinai hujan deras mengguyur semesta
Seiring liukan sang bayu menari ria
Hingga menggoyangkan puspa jelita
Aruni semerbak menghanyutkan rerahsa

    Runtuh jiwa di sabana cinta
    Tatkala teringat engkau wahai dayita ..
    Tak lagi ada
    Dalam dekapan mesra

Ku gemakan namamu pada hujan
Ku pintakan dirimu pada sabdanya
Jika memang engkau takdirku
Pasti kau akan kembali padaku

Kerinduan

Hujan dan Rindu

Hujan sudah berhenti
Namun tidak dengan rinduku
Ia Selalu merambat dalam hati
Meninggalkan rasa tuai simpati

Rinduku masih saja merajuk
Tak ingin pergi 
Meski hujan sudah beranjak
Mungkin sudah betah di hati ,

Hujan sudah berhenti
Tapi rindu ini masih tetap setia
Hujan dan rindu
Selalu saja menjadi candu

Rindu yang Membuai

[ Azbar.S ]

Rindu Yang Memburai

Hujan selalu mewakili rinduku
Yang tak tersampaikan kepadamu
Diam-diam menyusup diantara renyai
Mengisyaratkan rasa yang begitu memburai

Aduhai rindu
Mengapa engkau selalu berkecamuk
Saat karsa hati kian terbelenggu
Tak bisakah engkau pergi dari gundah

Namun
Biarlah ku titip rindu ini
Lewat rinai yang mengalir ke hatimu
Agar rindu ini
Tak terlalu dalam mengorek bilur

Hujan

[ Laily ]

Titik titik mulai berjatuhan
Menghadirkan sejuta kenangan
Setiap tetesnya menyejukkan
Membawaku dalam lamunan

Wahai hujan,
Apa kau sudah hadir di utara ?
Mebasahi hati mereka yang sedang lara
Apakah kau sudah menjenguk selatan ?
Menyiram setiap amarah yang menakutkan
Apa kau sudah terbagi di timur ?
Menyatukan yang berseteru menjadi akur

Wahai hujan,
Temani aku yang duduk sendiri
Menanti malam berganti pagi
Sambil melamunkan sang mentari
Yang samapai sekarang belum mengerti
Bahwa aku memiliki arti
Walau untuk diriku sendiri

Puisi Hujan Romantis

Bukan Takdirku

Gemetar sendi-sendiku..
Kala hujan menetes di mataku..
Indahnya rindu..
Hanya sekilas lalu..
Membuai melambungkam anganku..
Berharap sua dengan dirimu..
Walau pahatan takdir tak mendukungku..
Dikau nan jauh di alam bahagiamu..
Merangkai kehidupan bukan denganku
Hanya rindu yang menemaniku...
Tak berani berharap sua dnganmu..
Karena adamu bukan takdirku...


Hujan di Ujung September

[ Bara Asmara ]

Masih seperti kemarin
Hujan kali ini masih menyisakan luka 
Saat pergimu yang tiada ku duga 
Tiba tiba saja 

Masih seperti kemarin 
Tetap mengalun symponi melankoli
Menemani sedih yang tak bertepi
Menggores perih hati sanubari

Masih seperti kemarin 
Cinta masih tetap kusimpan 
Meski kembali mu entah kapan 
Atau hanya sebuah impian 

Masih seperti kemarin
Masih saja ,,,
Masih saja ada lara 
Masih juga ada luka ,,,

Entah kapan sembuh nya 

Hujan di Akhir November

Hujan di akhir november...

Hujanmu  Tak  begitu deras...Namun...
Rintikmu yg kerap menjadikan hatiku semakin pengap dan dingin.
Ku sembunyikan derai airmata dan isakku dibalik suara rintikmu...
Dalam rintikmu ku berdoa...
Ya Allah peluk aku hingga ku mampu tegar.
Ya Allah balut hatiku dengan pelukMU. Penuhi hatiku dengan kasihMU.
Ya Allah jadikanlah hujan terakhir dibulan november menjadi pembawa bahagiaku
Ya Allah ijinkan ku menggapai bahagiaku meski ku harus tertatih tatih dijalanan yg penuh kerikil...

Dalam Hujan

[ Djoko Saher ]
 
Dari Perjalanan Jauh
Kusimpan Wajahmu Dalam Samar Bayangan
Mungkinkah Cintaku Terkubur
Di Tengah Gelombang
Di Manakah Pertemuan Itu ?
Jika Cinta Terbalas
Mungkin Sauh Terlepas
Jika Tiada Cintamu
Biar Kudekap Bayangmu
Dalam Hujan Yang Belum Juga
Reda. 


Malam yang Berhati

[ Indra Prasta ]

Hujan malam ini bagaikan rintik kehidupan
Sama halnya dengan hembusan angin malam
Walau semilir namun menusuk menembus batas dekapan
Begitu pula dinginnya butiran hujan yang berlanjut dalam kelam
Apa yang kusampaikan ini hanyalah cerita tiada arti 
Cerita yang juga bukan kisah yang berarti
Hanya kiasan kuanggap mekaran bunga matahari
Yang tak pernah malu terlihat tak hanya di mata namun juga di hati

Puisi Tentang Hujan di Malam Hari

Hujan Kemarau

khaeratulfadilah

Kekurangan yang kumiliki 
Membuat banyak orang menepi
Kutanya kenapa kau tak pergi
Jawabmu ingin melengkapi

Belum kujelaskan buruk masa lalu
Kau telah ucap sebuah kata kubur
Kau bilang tempat kita berlabu
Ada di masa depan yang baru

Saat dunia kuanggap tak memberi peluang
Kau memberi banyak ruang
Kau bilang tak selalu tentang uang
Masih ada waktu untuk terus berjuang

Saat aku mulai bangkit
Sedikit demi sedikit berdiri
Kau mulai tertatih di tepi
Tapi kau bilang akan tetap menemani

Kau mekar yang Tuhan beri di musim gugur
Kau hujan yang jatuh di musim kemarau
Kau sejuk di tengah gersangnya gurun 
Dan kau jiwa di saat hati tengah sakaratul maut

Hujan Deras

Hujan yg deras..
Aku melihat dari tepi jendela yg aku buka..
Wajahku basah tapi aku lega..
Hujan makin deras..

Ada hujan yg seketika sanggup menciptakan satu episode dalam hidup..
Ada hujan yg mampu menciptakan pertumbuhan yg baru..
Pada aroma hujan yg terhidu..
Pada titik² air yg menyentuh mukaku..

Aku bukan lemah..
Karena itu aku melawan..
Aku bukan..
Aku tidak akan..

Menjadi yg bisa dijatuhkan..
Menjadi lemah tanpa kekuatan..
Menjadi yg diam lalu pasrah. 
Menjadi lemah..

Dalam hujan..
Menemukan..
Hujan..
Kekuatan..

Sisa Hujan Semalam

[ Retno Galih Wijayanti ]

Ada yang tergenang di ujung pagi
Bukan bening embun yang menata hati
Namun sisa hujan membasah bumi
Dan mimpi yang menjauh pergi ....

Seorang lelaki berlari kencang
Mengejar matahari yang bersiap jadi penerang
Sedangkan seorang perempuan tunduk tersipu
Mengintip matahari dari balik jendela biru

Sisa hujan semalam
Meninggalkan jejak sang lelaki di tanah yang membasah
Menyapukan rasa sang perempuan di langit yang mendung
Di antara jejak dan rasa, mereka hanya menemukan kenangan 

Hujan Harapan

[ ilusidiri ]

Pada warna awan
Biru teramu kegelapan
Warna hitam membaur dalam angan
Mendung menggantung mencipta bayangan

Gerimis adalah titik harapan
Pada kering rasa di ujung penantian
Lambat laun menetes air hujan
Diwaktu yang Tuhan telah tentukan
Bumi tergenang pada kerinduan

Nikmati saja derasnya waktu saat menunggu
Merangkai dingin tuk musim yang baru
Saat langit kembali membiru
Warna warni pelangi hiasi rasa yang menyatu

Dalam untaian untaian doa
Hujan tak mencipta sebuah bencana
Namun berkah yang akan dibawa
Suburkan rasa yang lama kita jaga

Cerita Hujan

Hujan acapkali meninggalkan genang
Layaknya curah dengan kenang
Tapi tidak kali ini

Kini aku begitu menikmati
Seperti kanak-kanak yang berlarian di rintiknya
Menyambut bahagia setiap tetesnya

Hujan ini cipta selengkung senyum bahagia
Bahagia yang serta-merta ingin kubagikan padamu, pada anak-anak yang menungguku pulang penuh sukacita

Puisi Hujan dan Doa

Hujan Datang 

[ Mallicha elyzabeth ] 

Kata langit tadi pagi 
Aku mau menurunkan hujan kali ini 
Agar segala debu yang menempel di dedaunan beranjak pergi 
Sudah cukup lama bunga- bunga yang indah di selimuti daki 

Kata langit pagi tadi 
Awan telah aku perintahkan menyimpan air dari bumi 
Rintik segera aku jatuhkan 
Agar tanaman pun ikut kegirangan
Menikmati hujan yang berjatuhan 

Sebentar saja ingin kubasuh pertiwi 
Dan mencuci semua daki- daki 
Tidak lupa juga tahi si burung kenari 
Terlalu banyak mengotori 
Baunya pun tak sedap sekali 

Hujan bergegas datang 
Jatuh perlahan membasahi ladang 
Menyejukkan tanah gersang 
Membawa suka cita 
Bersama mekarnya bunga- bunga 


Penyejuk Harap

Hujan di akhir september
Riuh penuh
Jatuh
Sambangi tandus 

Membuat senyum teduh
Petani petani pegunungan
Yang gantungkan berjuta angan
Pada kucur sang hujan 

Terimakasih tuhan 
Tlah kau hadir kan 
Penyejuk harap 
Tuk menatap  lagi masa depan

Hujan Mengecup Senja

[ Heru Billy ]

Sudah senja saja 
Saat hujan menjelma
Menatap jendela lama
Sambil mengeja basah sepanjang jalan.

Bersetubuh rintiknya di luruh sentuhan 
Hanya terasa menyapa malam 
Secepat cahaya daya hidup 
Mencari mengecup ruang waktu.

Dengan pasti bilik kejadian menyala
Lidah api jelata satu satunya 
Pembuka pintu kabar kepastian
Di antara yang terhanyut 
Terhempas dan merdeka. 

Menempuh batas bicara 
Letupan pencerahan menjadi penyampai diam
Datangi doa ke dalam hati  
Ketenangan menanti tiada tepi.

Hujan


Hujan kau telah datang
Semua merindukanmu
Sejuk siraman airmu
Pelepas dahaga semua isi bumi
Daun yang berselimut debu
Kini bersih tersapu olehmu
Tanah yang berbongkah terbelah
Kering kerontang tanpa mata air
Kini wangi tesiram olehmu
Sambutan gembira bagi mereka
Yang membutuhkanmu
Terima kasih atas keberkahanmu
Ya Rabb..

Aku Ingin Seperti Hujan

Ku ingin seperti hujan
memberikan kehidupan
Ku ingin seperti matahari selalu menyinari dunia ini
Ku ingin seperti bintang bintang selalu menemani bulan
Ku ingin seperti semut
tak pernah kenal lelah
Tapi sementara itu hanya khayalan
Yang ingin ku ubah
menjadi kenyataan


Posting Komentar untuk "35 Puisi Tentang Hujan Singkat - Sedih, Rindu dan Kenangan"