4 Tingkatan Ansietas Menurut Stuart dan Laraia

Sebelum membahas tentang ada berapa tingkatan ansietas, sebaiknya anda memahami terlebih dahulu mengenai beberapa hal terkait ansietas itu sendiri.

Definisi Ansietas

Menurut Stuart dan Laraia (2005) yang  mengatakan bahwa ansietas  memiliki nilai yang positif. Karena dengan ansisetas maka aspek positif  individu berkembang karena adanya sikap konfrontasi (pertentangan), antisipasi yang tinggi, penggunaan  pengetahuan serta sikap terhadap pengalaman mengatasi kecemasan. Tetapi pada keadaan lanjut perasaan cemas dapat mengganggu kehidupan seseorang. 

Tingkatan Ansietas Menurut Stuart dan Laraia

Definisi lain tentang ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai  suatu respons. Seringkali sumber perasaan tidak santai tersebut  tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu.

Ansietas dapat pula diterjemahkan sebagai suatu perasaan takut akan terjadi sesuatu yang disebabkan oleh antisipasi bahaya. Ansietas merupakan sinyal yang menyadarkan/memperingatkan akan adanya bahaya yang akan datang dan membantu individu untuk bersiap mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman.

Tanda dan Gejala Ansietas

  1. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri serta mudah tersinggung.
  2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah dan mudah terkejut. Mengatakan takut bila sendiri, atau pada keramaian dan banyak orang. 
  3. Mengalami gangguan pola tidur dan disertai mimpi  yang menegangkan. Gangguan konsensstrasi dan daya ingat.
  4. Adanya keluhan somatik, mis rasa sakit pada otot dan tulang belakang, pendengaran yang berdenging atau berdebar-debar, sesak napas, mengalami gangguan pencernaan berkemih atau sakit kepala 
Faktor Predisposisi 
Menurut Stuart dan Laraia (20050) terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan terjadinya ansietas, diantaranya: 

1. Faktor Biologis 
Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine, yang  membantu mengatur ansietas. Penghambat GABA juga berperan utama dalam mekanisme biologis timbulnya ansietas sebagaimana halnya dengan endorfin. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor. 

2. Faktor Psikologis 

  1. Pandangan Psikoanalitik. Ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara antara 2 elemen kepribadian – id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang yang dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa akan bahaya. 
  2. Pandangan Interpersonal. Ansietas timbul dari perasaan takut terhadap penerimaan dan penolakan interpersonal. Ansietas berhubungan dengan kejadian  trauma, seperti perpisahan dan kehilangan dari lingkungan  maupun orang yang berarti bagi pasien,. Individu dengan harga diri rendah sangat mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat. 
  3. Pandangan Perilaku. Ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku menganggap ansietas sebagai dorongan belajar dari dalam diri unntuk menghindari kepedihan. Individu yang sejak kecil terbiasa menghadapi ketakutan yang berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas dalam 

3. Sosial budaya 
Ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga.. Faktor ekonomi, latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap terjadinya ansietas


4 Tingkatan Ansietas Menurut Stuart dan Laraia

Setelah mengetahui mengenai definisi serta faktor predisposisi ansietas. Maka Stuart dan Laraia membedakan ansietas menjadi 4 tingkatan yakni : 

A. Ansietas Ringan

Ansietas ringan sering kali berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan memperluas pandangan persepsi. Ansietas ringan memiliki aspek positif yaitu  memotivasi individu untuk belajar dan menghasilkan serta meningkatkan pertumbuhan dan kreativitas. Respon dari ansietas ringan diantaranya : 

  1. Respon fisiologis meliputi sesekali nafas pendek, mampu menerima rangsang yang pendek, muka berkerut dan bibir bergetar. Pasien mengalami ketegangan otot ringan
  2. Respon kognitif meliputi koping persepsi luas, mampu menerima rangsang yang kompleks, konsentrasi pada masalah, dan menyelesaikan masalah.
  3. Respon perilaku dan emosi meliputi tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada lengan, dan suara kadang meninggi. 
B. Asietas Sedang

Ansietas sedang. Pada ansietas tingkat ini, memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain, sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.Manifestasi yang muncul pada ansietas sedang antara lain: 

  1. Respon fisiologis Sering napas pendek, nadi dan tekanan darah naik, mulut kering, diare atau konstipasi, tidak nafsu makan, mual, dan berkeringat setempat.
  2. Respon kognitif  Respon pandang menyempit, rangsangan luas mampu diterima, berfokus pada apa yang menjadi perhatian dan bingung.
  3. Respon perilaku dan emosi  Bicara banyak, lebih cepat, susah tidur dan tidak aman. 

C. Ansietas Berat 

Pada ansietas berat pasien lapangan persepsi pasien menyempit. Seseorang cendrung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci, spesifik dan tidak dapat berfikir tentang hal lain. Semua perilaku pasien hanya ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Pasien tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. Manifestasi yang muncul pada ansietas berat antara lain: 

  1. Respon fisiologis  Napas pendek, nadi dan tekanan darah naik, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur, dan ketegangan
  2. Respon kognitif  Lapang persepsi sangat sempit, dan tidak mampu menyelesaikan masalah.
  3. Respon perilaku dan emosi  Perasaan terancam meningkat, verbalisasi cepat, dan menarik diri dari hubungan interpersonal. 

D. Tingkat Panik 

Perilaku yang tampak pada pasien dengan ansietas tingkat panik adalah  pasien tampakketakutan dan mengatakan mengalami teror,  tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan serta disorganisasi kepribadian. Terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi menyimpang, kehilangan pemikiran rasional. Manifestasi yang muncul terdiri dari:

  1. Respon fisiologis  Napas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat, hipotensi, dan koordinasi motorik rendah.

  2. Lapang kognitif  Lapang persepsi sangat sempit, dan tidak dapat berfikir logis. 

  3. Respon perilaku dan emosi  Mengamuk- amuk dan marah- marah, ketakutan, berteriak- teriak, menarik diri dari hubungan interpersonal, kehilangan kendali atau kontrol diri dan persepsi kacau.  

Daftar Pustaka 
  • Rawlins, R.P., Williams,S.R., Beck, C.M.,1993, Mental Health Psychiatric Nursing a Holistic Life Cicle Approach, Mosby Year Book, London  Stuart, G.W., Laraia, M.T., 1998, Principles and Practice of Psychiatric Nursing, 6th Edition, Mosby, St. Louis
  • Stuart, Gall Wiscart and sundeen, Sandra J. Pocket guide to psychiatric nursing   (2 nd. Ed) Mosby Year Book, St. Louis, baltimore. Boston Chicago. London. Sydney. Toronto.
  • Stuat, G.W., Sundeen, S.J., 1998, Keperawatan Jiwa, Buku Saku, Terjemahan Hamid, A.S., Edisi 3, EGC, Jakarta  
  • TIM Jiwa FIK UI. 1999. Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Keperawatan Jiwa. Jakarta: Bagian Keperawatan Jiwa Komunitas FIK UI, tidak diterbitkan  
  • Townsend, M.C. 1998. Diagnosis Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri: Pedoman untuk Pembuatan Rincian Perawatan, Jakarta: EGC   

Belum ada Komentar untuk "4 Tingkatan Ansietas Menurut Stuart dan Laraia"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel