Skip to main content

Pengertian folklor, jenis, fungsi dan ciri-cirinya

Pembaca sekalian apakah sudah pernah mendengar istilah folklor ? Apakah pembaca sudah mengerti arti dari folklor itu sendiri?. Selama ini folklor disamakan dengan kebudayaan, namun sebenarnya kedua istilah ini memiliki arti yang berbeda. Beberapa tokoh seperti Budiman ( 1979 ) berpendapat bahwa folklor merupakan bagian dari kebudayaan, namun tokoh lain Danandjaja ( 2007 ) berpendapat lain yakni folklor berbeda dengan hasil kebudayaan. Untuk memahami lebih banyak tentang folklor mari kita baca artikel singkat ini yang berisi tentang pengertian, ciri-ciri dan jenis-jenis folklor yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.   

Pengertian folkklore, jenis, fungsi dan ciri-cirinya

Pengertian Folklor

Secara etimologi, kata folklor berasal dari folk yang mempunyai arti rakyat serta kata lor yang mempunyai arti adat atau pengetahuan ( John M Echol 2003 ). Kata-kata tersebut digabung menjadi folklor yang secara harfiah memiliki arti adat dan pengetahuan mengenai rakyat. Namun, sebagai istilah folklor mengandung konsep yakni adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun namun tidak dibukukan. 

Yang dimaksud adat istiadat tradisional sendiri adalah : Tata kelakuan yang merupakan kebiasaan di dalam suatu masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Sedangkan yang dimaksud dengan cerita rakyat adalah cerita yang ada dan berkembang di kalangan masyarakat tanpa diketahui siapa pengarangnya dan bersifat anonim.      

Ciri-ciri Folklor

Untuk bisa membedakan folklor dengan kebudayaan lainnya, maka kita harus mengetahui beberapa ciri-ciri folklor itu sendiri. Berikut ini merupakan ciri-ciri dari folklor :
  1. Pewarisan dan penyebaran dari folklor itu sendiri menggunakan tutur kata atau dari mulut ke mulut, bukan melalui media tertulis. Selain itu, pewarisan dan penyebarannya juga bisa melalui media lain sebagai contoh yakni melalui gerak-gerik, isyarat dan alat bantu pengingat. Penyebarannya dari generasi ke generasi berikutnya. Namun seiring dengan perkembangan jaman, saat ini penyebaran folklor dilakukan melalui mesin cetak dan media elektronik.
  2. Folklor itu bersifat tradisional, dalam artian penyebarannya bersifat relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan oleh suatu kelompok etnis tertentu dalam waktu yang cukup lama, minimal 2 generasi. 
  3. Folklor itu eksis, atau ada dalam versi dan varian-varian yang berbeda. Hal ini dikarenakan penyebarannya dilakukan dengan cara dari mulut ke mulut. Bukan melalui rekaman atau cetakan. Oleh karena itu, terdapat beberapa faktor yang bisa saja merubah beberapa isi dari folklor itu sendiri, salah satunya adalah faktor lupa yang merupakan salah satu ciri khas dari manusia. Selain itu, terjadi pula interpretasi, yakni penambahan-penambahan dalam folklor itu sendiri. Oleh karenanya, terjadi beberapa jenis versi. Walau demikian, perubahan yang ada hanya sebatas bagian luarnya saja, tidak merubah dari bentuk dasarnya.
  4. Folklor bersifat anonim yakni tidak diketahui siapa penciptanya. Apabila suatu cerita atau hasil kebudayaan lain diketahui siapa yang menciptakannya, maka tidak bisa disebut sebagai foklor. Contoh folklor diantaranya : Lagu Lenggang-Lnggang Kangkung, lagu Jali-jali sebagai lagi rakyat Betawi, tidak tau siapa yang menciptakannya.  
  5. Folklor biasanya memiliki bentuk dan pola tertentu. Cerita-cerita rakyat biasa mempunyai ungkapan-ungkapan yang sudah mengklise seperti : Wajahnya seperti bulan empat belas untuk menggambarkan kecantikan seorang putri, atau pada awal cerita dimulai dengan kata-kata : " Alkisah ada seorang "....atau konon, dan seterusnya.
  6. Folklor mempunyai mempunyai kegunaan dan fungsi dalam kehidupan suatu masyarakat. Misalnya cerita rakyat yang didalamnya terdapat pesan-pesan moral yang perlu diwariskan turun temurun dan harus dipegang teguh oleh generasi berikutnya. 

Jenis-Jenis Folklor

Jenis-jenis folklor bisa kita lihat dari beberapa aspek. Seperti halnya yang dilakukan oleh endraswara ( 2009 ). Beliau membagi folklor menjadi 3 kelompok yakni : Folklor lisan ( verbal folklor ), folklor setengah lisan ( parthy verbal folklor ) serta folkor bukan lisan ( non - verbal folklor ).
  1. Folklor lisan : Folklor yang diciptakan, diwariskan, disebarluaskan dalam bentuk lisan seperti halnya bahasa rakyat, cerita rakyat, puisi-puisi daerah, ataupun nyanyian-nyanyian daerah dan sebagainya.
  2. Folklor setengah lisan : Folklor yang diciptakan, diwariskan dan disebarluaskan secara lisan disertai dengan tindakan dan perbuatan. Contoh folklor setengah lisan adalah kepercayaan, takhayul, permainan rakyat, adat kebiasaan, tarian rakyat dan lain sebagainya.
  3. Folklor bukan lisan adalah : Folklor yang diciptakan, diwariskan dan disebarluaskan bukan dalam bentuk lisan seperti halnya arsitektur rakyat, kerajinan tangan, pakaian, perhiasan tradisional, makanan minuman tradisional, bahasa isyarat dan musik rakyat. 
Itulah sedikit ulasan mengenai folklor. Semoga bisa menambah sedikit wawasan bagi anda. Terimakasih  


Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar