Wayang Semar, Sifat, Karakteristik, Filosofi dan Kesaktiannya

Siapa sih yang tidak kenal dengan wayang??!!. Kesenian asli Indonesia ini sudah terkenal bahkan sampai ke mancanegara dan kini diakui sebagai salah satu warisan dunia. Hal itu tentunya membuat kita bangga dengan bangsa kita sendiri, bangsa yang kaya akan budaya, bahasa dan adat istiadat lainnya.


Gambar Semar


Berbicara mengenai wayang, terutama wayang kulit. Ada salah satu tokoh yang cukup iconik dan terkenal dengan pitutur luhurnya. Konon karena kebijaksanaan yang dimilikinya, beliau dijadikan penasehat oleh pandawa. Tokoh wayang tersebut tidak lain adalah tokoh Semar yang memiliki nama asli yakni Batara Ismaya. 

Baca juga : 30 Kata Bijak Jawa Tentang Ilmu Disertai Artinya

Nah dikesempatan kali ini, kami akan mencoba membahas tentang tokoh Semar. Siapakah Semar itu, apa saja kesaktiannya serta lakon apa saja yang menceritakan tentang wayang Semar. Ikuti artikel ini sampai habis ya sob....

Siapa Semar Sebenarnya ?

Semar sering juga disebut atau memiliki arti Kyai Lurah Semar Badranaya. Ia adalah tokoh punakawan yang paling utama dalam pewayangan. Semar tidak hanya sebagai pengasuh, melainkan juga penasihat para ksatria Pandawa. Semar merupakan abdi dalem dari Sahadewa yang merupakan salah satu keluarga dari Pandawa. Disini Semar tidak hanya sebagai pengasuh, melainkan juga sebagai penghibur, terutama jika majikannya mengalami kesusahan. Bahkan Semar tak segan memberikan nasehat saat diperlukan. Konon Semar bukan sekedar rakyat jelata, melainkan penjelmaan dari Bathara Ismaya, kakak dari Bathara guru. Raja para dewa yang sakti dan disegani.   

  

Asal Usul Semar

Dalam serat Kanda dikisahkan dikisahkan bahwa penguasa kahyangan yang bernama Sangyang memiliki dua orang putera yang bernama Sangyang Tunggal dan Sangyang Wenang. Karena Sangyang Tunggal tidak bisa mewarisi takhta kerajaan maka tahtanya diwariskan kepada Sangyang Wenang. Pada penggantian tahta berikutnya, Sangyang Wenang mewariskan tahtanya kepada Batara Guru. Karena Sangyang Tunggal tidak menjadi raja maka anak keturunannya menjadi pengasuh ksatria anak dari Batara Guru. Anak turun dari Sangyang Tunggal itulah yang disebut sebagai Semar. 

Gambar Semar


Pada versi lain Sangyang Tunggal dikisahkan menikah dengan Dewi Rakti. Dari hasil pernikahan tersebut, lahirlah sebutir mustika berwujud telur yang berubah menjadi dua orang pria. Mereka diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Namun Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan dan tahta kahyangan diwariskan kepada Manikmaya yang kemudian bergelar sebagai Batara Guru. 

Ismaya hanya diberikan kedudukan penguasa alam Sunyaruri, tempat tinggal golongan makluk halus. Pada akhirnya Ismaya mempunyai putra sulung bernama Batara Wungkungham, yang berbadan bulat sehingga disebut Janggan Smarasanta atau disingkat sebagai Semar. Semar inilah yang kemudian menjadi pengasuh anak-anak dari Batara Guru.

Kisah lain menyebutkan bahwa tokoh wayang Semar berasal dari sebuah telur dari Sanghyang Tunggal dan Dewi Rakti. Pada suatu saat Sangyang Tunggal marah dan membanting telur tersebut pecah menjadi 3 bagian. 3 bagian tersebut diantara lain yakni : Cangkang, putih telur dan kuning telur. Tidak disangka 3 bagian telur tersebut menjadi 3 orang lelaki yang bernama : Antaga, Ismaya dan Manikmaya. 

Suatu hari Ismaya dan Manikmaya berselisih mengenai pewaris tahta Kahyangan. Mereka masing-masing ingin menjadi pewaris tahta. Mereka kemudian berlomba dengan cara menelan gunung. Antaga tidak berhasil, bahkan mulutnya robek dan matanya keluar melotot. Ismaya memakan gunung tersebut sedikit-sedikit sampai habis sehingga menyebabkan badannya membesar dan menjadi bulat. Karena keserakahannya, keduanyapun dihukum dan tidak dijadikan raja. Yang diangkat menjadi raja yakni Manikmaya dan bergelar Batara Guru. Ismaya dan keturunannya kemudian menjadi pengasuh dari putra-putra Batara Guru. Ismaya dikenal sebagai tokoh pewayangan Semar, sedangkan Antaga dikenal sebagai Togog.

  

Ciri Fisik Semar

Bentuk fisik Wayang Semar yang membulat merupakan simbol dari Jagat raya, bumi sebagai tempat tinggal manusia dan makluk lainnya. Wajah Semar selalu tersenyum, namun matanya sembab yang menggambarkan suka dan duka. Walaupun Semar memiliki wajah yang tua, namun rambutnya bergaya kuncung seperti layaknya anak kecil. Hal ini menjadi simbol tua dan muda.

Semar digambarkan seorang lelaku, namun memiliki ciri fisik perempuan. Terlihat dari dadanya yang membesar. Banyak yang meyakini bahwa Semar merupakan seorang dewa, namun hidup layaknya rakyat biasa. Hal ini menjadi simbol atasan dan bawahan. Senjata pamungkas dari Semar adalah kentutnya, yang bisa memporak-porandakan seisi dunia.   


Nilai Filosofis Semar

Bila kita mengamati dengan seksama, maka tangan pada tokoh pewayangan Semar adalah denga jari telunjuk yang menunjukkan seolah menuding. Hal ini melambangkan karsa atau keinginan yang kuat untuk menciptakan sesuatu. Sedangkan mata yang menyipit melambangkan ketelitian atau keseriusan dalam mencipta. 

Gambar Wayang Semar
Gambar Wayang Semar


Berbeda dengan kakaknya, Semar bertugas untuk menuntun makhluk bumi dari golongan manusia, terutama para ksatria yang berbudi baik. Semar bertugas menjadi penuntun dan pengayom para ksatria yang berbudi baik agar mereka dapat menang setiap kali berhadapan dengan kejahatan


Kesaktian Semar

Seperti yang sudah diceritakan. Semar diyakini merupakan dewa yang menjelma menjadi rakyat biasa. Oleh karena keturunan dewa, maka tidak ada yang meragukan kesaktiannya. Adapun senjata yang dimilikinya adalah berupa kentut. Kentut yang dimiliki Semar adalah senjata alami dan bersifat untuk menyadarkan, bukan untuk membunuh. Dalam sebuah kisah, dimana Pandawa Lima tidak bisa mengalahkan salah satu Resi dalam suatu pertempuran. Semar menggunakan kentutnya untuk mengakiri peperangan. Pada akhirnya tidak ada yang kalah dan juga tidak ada yang menang. Semua tersadar bahwa peperangan bukanlah jalan untuk menyelesaikan suatu masalah.     


Pitutur Luhur Semar

Berbicara mengenai tokoh pewayangan Semar, tentunya tidak akan lengkap apabila kita tidak membicarakan kata-kata bijak atau pitutur luhurnya yang seringkali dijadikan pedoman hidup oleh banyak orang terutama masyarakat Jawa. Adapun pitutur luhur Semar diantaranya :

  1. Akeh lumuh, katokna balilu, marna tansah mintonaken kawruh pribadi. Amrih dalenema punjul tegese Banyak-banyaklah menahan diri dan memperlihatkan kebodohan. Jangan menonjolkan kemampuan diri sendiri dan jangan pelihara sikap yang senantiasa ingin dipuji.
  2. Lamun sarwa putus, kapinteran simpenenen nang pungkur. Bodhonira katokna ing ngarsa yekti. Gampang traping tindak-tanduk. Amamas pambekaning wong tegese Jika telah paham simpanlah kepandaian di belakang perlihatkan kebodohan di depanmu. Mudahkan cara bersikap dalam menyelami sikap orang lain.
  3. Kang sinebut ing gesang ambeg linuhung, kang wus tanpa sama, iya iku wong kang bangkit, amenaki manahing sasama-sama tegese Yang dimaksud hidup yang luhur, yang tanpa tandingan, yaitu orang yang mampu membahagiakan sesama.
  4. Mring wong luput den agung apuraning , manungsa sapraja, peten tyase supadya sih, pan mangkana wosing tapa kang sanyata tegese Kepada yang bersalah berikanlah ampunan, rakyat seluruh negara, ambillah hatinya supaya saling mengasihi, demikianlah tapa yang sebenarnya.
  5. Wong andhap asor iku, yekti oleh penganggep becik, wong meneng iku nyata, neng njaban pekewuh tegese Orang yang rendah hati pasti akan dianggap baik. Sedangkan orang diam itu akan selamat dari bencana lidah.
  6. Wong prasaja solahira, iku ora gawe ewa kang ninggali, wong nganggo tepanira tegese Orang yang sederhana itu tidak akan mengganggu orang lain bahkan dia akan dijadikan teladan bagi orang lain.
  7. Sopo-sopo wong kang gawe becik, nora wurung benjang manggih arja. Tekeng saturun-turune tegese siapa yang berbuat kebajikan pada akhirnya akan menemui kesejahteraan, hingga ke anak cucunya.
  8. Nadyan metu saking wong sudra pepeki, lamun becik anggone muruk, iku pantes sira nggo tegese Walau berasal dari seorang yang miskin dan rendah jika baik ajarannya, itu pantas kamu ikuti.            

Cerita Semar

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Batara Ismaya adalah anak kedua dari Sang Hyang Tunggal yang berasal dari telur. Dia adalah adik dari Batara Antaboga atau kita sering menyebutnya sebagai togog. Pada awalnya, Batara Ismaya atau Semar memiliki tubuh yang sempurna dan tampan. Akan tetapi, setelah perkelahian ( adu kesaktian ) dengan kakaknya, ia ( Semar ) berubah menjadi cacat dan buruk. Perutnya berubah menjadi buncit akibat menelan gunung. Wajahnya yang sebelumnya tampan berubah menjadi buruk.

Setelah turun ke bumi dengan wajah dan rupa yang buruk. Batara Ismaya kemudian berubah nama menjadi Semar. Di dalam pagelaran wayang, sosok Semar sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sosok Semar ditampilkan dengan wayang bertubuh buncit dan berwajah buruk. 

Agar tidak kesepian karena harus meninggalkan istri dan anak-anaknya di kahyangan, semar menhambil anak angkat dari dua orang raksasa yang pernah mengacaukan kahyangan. Mereka adalah Gareng dan Petruk yang keduanya adalah jelmaan dari Mercu Sukati dan Mercu Panyukilan. Setelah ditaklukan, keduanya lantas mau mengikuti Semar dan menjalankan tugasnya di bumi.

Yang penting adalah, ketika Semar belum berubah wujud menjadi buruk rupa, ia memiliki istri bernama Batari Sanggani ( seorang bidadari ). Dari istri inilah semar menurunkan beberapa anak yang merupakan dewa-dewi yakni Batara Wungkuman, Batara Siwa, Batara Temburu, Batara Kawera, Batara Wrahasti, Batara Surya, Batara Candra, Batara Yamadipati, Batara Kamajaya dan Batari Darmastuti.

Di bumi Semar ternyata masih merasa kesepian, meskipun sudah memiliki 2 anak angkat. Maka dari itu, untuk menghilangkan kesepian itu, Sang Hyang Tunggal memberikan seorang teman kepada Semar yang diciptakan dari bayangannya sendiri. Dia bernama Bagong yang mirip dengan Semar yakni berbadan gemuk. Sejak saat itulah mereka berempat disebut sebagai Punakawan yang bertugas mengabdi kepada para ksatria manusia yang berbudi baik dan selalu membantu mereka dalam mengalahkan setiap bentuk kejahatan.

Sebagai penjelmaan Ismaya, untuk pertama kalinya Semar mengabdikan diri kepada Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Pada suatu hari, Semar diserang dua ekor harimau berwarna merah dan putih. Manumanasa memanah kedua harimau tersebut hingga berubah ke wujud aslinya yakni sepasang bidadari bernama Kanistri dan Kaniraras. Berkat pertolongan Manumanasa kedua bidadari itu terbebas dari kutukan jahat yang membelenggu keduanya. Kanistri kemudian menjadi istri Semar dan biasa dipanggil sebagai sebutan Kanastren. Sementara itu Kaniraras menjadi istri Manumanasa. Karena kakak perempuna Manumanasa juga bernama Kaniraras maka ia kemudian berganti nama menjadi Retnawati.   
   


Semar dalam Islam

Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, dalam catatan wikipedia. Tokoh Semar pertama kali ditemukan pada karya sastra jaman kerajaan Majapahit yang berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat dalam relief dalam candi Sukuh tahun 1439. Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang kala itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya adalah Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih saja dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak dibandingkan dalam kisah Sudamala.  

Baca juga : 



Itulah sedirit penjelasan tentang tokoh pewayangan Semar [ Sifat, Karakteristik, Filosofi dan Kesaktian ], yang merupakan salah satu anggota dari Punakawan. Kita bisa banyak belajar dari sosok yang satu ini, terutama tentang kebijaksanaannya, sifat-sifatnya yang rendah diri serta tentang piwulang-piwulang luhurnya yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Belum ada Komentar untuk "Wayang Semar, Sifat, Karakteristik, Filosofi dan Kesaktiannya"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel