pengalaman membantu bekerja di perkebunan kelapa sawit

Sekedar berbagi pengalaman, saya mempunyai saudara yang bekerja di perkebunan kelapa sawit tepatnya di Kecamatan Meranti, Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi. Beliau berasal dari Kabupaten Sragen Jawa Tengah dan sudah menetap di Jambi sejak tahun 1990. Pada waktu itu ada program transmigrasi yang diprakarsai oleh pemerintah pusat, nah saudara saya ini mengikuti program tersebut dan sejak saat itu pula menjadi penduduk Propinsi Jambi dan berprofesi sebagai petani sawit.

pengalaman bekerja di perkebunan kelapa sawit


Bagi saya yang lahir dan besar di tanah Jawa, saya belum pernah mempunyai pengalaman bekerja atau bahkan melihat kebun kelapa sawit secara langsung. Adanya hanyalah pohon kelapa sawit yang sering digunakan sebagai pohon perdu beberapa intansi pemerintahan di Kabupaten Klaten tempat tinggal saya. Saya sangat penasaran sekali akan perkebunan kelapa sawit dan melihatnya secara langsung serta ingin mengetahui kehidupan para petani kelapa sawit disana, hal itu dilatarbelakangi karena saya seringkali mendengar kisah sukses para pemilik perkebunan kelapa sawit yang berhasil menjadi jutawan dari hasil mereka menanam dan membudidayakan pohon yang diambil buahnya ini.

Kesempatan untuk pergi ke Jambi ke tempat saudara tidak saya sia-siakan begitu saja. Bermodalkan tiket pesawat promo dari penerbangan lokal, sayapun pergi ke Jambi dan menetap untuk beberapa waktu disana. Dari atas pesawat sudah bisa saya lihat, hamparan perkebunan kelapa sawit yang sangat luas. Saya hanya bisa melihat sedikit sekali area pemukiman penduduk dari atas ketinggian. Sungguh sangat berbanding terbalik dibandingkan dengan keadaan pulau Jawa yang apabila dilihat dari atas dipenuhi dengan berbagai bangunan beton dan seringkali tertutup oleh udara yang tercemar akibat polusi udara.

Lokasi perkebunan sawit

Saya harus menempuh kurang lebih 6 jam perjalanan dengan mobil travel untuk bisa sampai ke tempat tinggal saudara saya terhitung dari bandar udara Sultan Taha Jambi. Apabila dari Kota Kabupaten Meranti perlu waktu 1 jam perjalanan untuk bisa sampai ke area perkebunan kelapa sawit dengan melalui jalan beraspal yang rusak parah. Jangan dibayangkan jalanan disana mulus dan bisa dilalui dengan mudah. Jalan aspal disana sudah tidak terlihat aspalnya karena semua sudah terkelupas meninggalkan tatanan kerikil yang bisa saja membuat kendaraan kita tergelincir.

jalan untuk menuju ke tempat saudara


Hal itu disebabkan karena kendaraan yang melintasi jalan ini memiliki berat yang luar biasa. Kendaraan truk bermuatan buah kelapa sawit dengan beban kurang lebih 10-12 ton seringkali melewati daerah ini menyisakan jalanan rusak dan berdebu. Rata-rata penduduk di daerah ini apabila mereka memiliki mobil, maka mobil bak terbuka berkabin empatlah yang menjadi pilihannya. Seperti For* Everest, Strad*. Jarang sekali atau bahkan tidak ada penduduk yang menggunakan mobil sedan untuk keperluan sehari-hari.

Pengetahuan baru tentang perkebunan sawit

Hari kedua di Jambi, barulah saya diajak ke kebun sawit oleh saudara saya. Pada waktu itu adalah giliran hari panen. Waktu panen dilakukan seminggu sekali sedangkan untuk pemupukan dilakukan 3 bulan sekali. Nah, kebetulan pohon sawit di kebun milik saudara saya adalah pohon sawit yang berusia cukup tua. Rata-rata pohon di kebun ini berusia lebih dari 15 tahun dan produksi buahnya sudah banyak menurun. Saudara saya memiliki beberapa kavling kebun sawit dengan jumlah ratusan pohon. Untuk mengukur luas kebun sawit masyarakat disini satuan kavling dan bukan menggunakan satuan hektare. Dalam satu kavling itu sendiri terdiri dari 2 hektare tanaman sawit. 

kebun kelapa sawit
Kebun sawit milik saudara


Untuk bisa mengetahui kelapa sawit yang sudah tua dan siap panen maka kita bisa melihat bagian bawah pohon tersebut. Biasanya apabila di atas pohon terdapat buah yang sudah matang dan siap panen maka di bagian bawah pohon tersebut terdapat buah yang berjatuhan. Namun tidak menutup kemungkinan kita akan sedikit kesusahan untuk bisa melihat buah sawit tersebut karena rimbunnya dahan. Oleh karenanya biasanya terdapat pekerja atau buruh panen yang membantu pekerjaan dengan bayaran berapa kuintal sawit yang berhasil dipanennya.

Nah untuk proses pemanenannya sendiri kita menggunakan sebuah alat layaknya tongkat yang terbuat dari besi panjang dan ujungnya dikaitkan dengan sabit besar. Dalam proses pemanenan buah sawit, saudara saya dibantu dengan  seorang yang bertugas untuk menjatuhkan buah sawit dari pohonnya. Barulah setelah jatuh, buah sawit tersebut diangkut menggunakan sepeda motor ke sisi jalan untuk kemudian diangkut menggunakan kendaraan truk ke kota Kabupaten untuk dikumpulkan kepada pengepul.

buah dari pohon sawit yang sudah matang


Saya sendiri bertugas mengangkut buah kelapa sawit dari lokasi ke sisi jalan menggunakan sepeda motor. Sepeda motor yang saya pakai adalah sepeda motor roda tiga dengan bak terbuka di bagian belakangnya. Trek yang harus dilalui untuk bisa sampai ke jalan dengan akses mobil cukup jauh. Hal tersebut diperparah dengan beceknya area sekitar menyebabkan sepeda motor yang saya kendarai harus beberapa kali terperosok ke dalam lumpur. Di tengah perkebunan tidak ada orang lain yang menolong saya. Namun sebelum berangkat saudara saya sudah memberikan peralatan apabila tiba-tiba kendaraan saya masuk lumpur yakni dengan membawakan sebuah papan di bagian samping bak motornya. Papan tersebut digunakan untuk mengganjal sisi samping bawah dari ban yang masuk lumpur dan sebagai pijakan ban untuk menghasilkan daya dorong ke depan. Tidak sampai 10 menit sepeda motor yang saya kendarai berhasil keluar dari lumpur.


Pekerjaan tidak rutin dilakukan setiap hari

Bekerja di perkebunan kelapa sawit sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan bekerja sebagai petani khususnya di tanah Jawa. Bisa dipastikan kita harus sering ke sawah atau kebun sekedar untuk membersihkan rumput atau melakukan irigasi, maka hal itu tidak akan kita temukan apabila kita bekerja di kebun sawit. Saudara saya seminggu sekali ke kebun guna memanen sawit selebihnya dia di rumah sekedar berjualan sembako dan berjualan pupuk tanaman kelapa sawit. Selain untuk memanen kelapa sawit, jadwal pemupukan rutin dilakukan setidaknya 3 bulan sekali. Pupuk yang digunakan adalah pupuk urea. Hal yang menarik adalah, sebelum pupuk diberikan kepada tanaman, maka daerah sekililing akar dibersihkan dahulu dari rumput dengan tanaman pengganggu lainnya. Cara mematikannya adalah disemprot dengan obat rumput, barulah 3 hari kemudian rumput tersebut mati dan pemupukan bisa dilakukan. Apabila tidak dilakukan pembersihan terhadap rumput dan tanaman pengganggu, dikhawatirkan justru yang bertambah subur adalah rumput di sekitar tanaman sawit. Saya sendiri berkesempatan untuk ikut dalam proses pemupukan selama beberapa hari. Tidak tanggung-tanggung biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali pemupukan, setidaknya kita harus mengeluarkan biaya kurang lebih 3 juta rupiah untuk sekali pemupukan tiap kavling kebun kelapa sawit. Bisa dibayangkan bagi orang yang memiliki 50 kavling, berapa ratus juta yang harus dikeluarkan agar tanaman sawitnya dapat tumbuh subur dan menghasilkan banyak buah.

Sawit merubah segalanya

Di daerah tempat tinggal saudara saya yakni di area B2 dusun beringin, upaya penanaman sawit baru dilakukan tahun 1995. Sedangkan saudara saya melakukan transmigrasi tahun 1990. 5 tahun para transmigrasi hidup seadanya dengan hasil bumi seperti singkong, talas atau umbi-umbian lainnya. Kehidupan serba pas-pasan harus dilalui selama beberapa tahun. Barulah pada tahun 1995 terjadi perubahan besar-besaran dengan dikenalkannya tanaman sawit. Area yang dahulu digunakan untuk tempat penanaman palawija dirubah menjadi perkebunan sawit. Untuk bisa memanen sawit maka perlu menunggu waktu sekitar 4-5 tahun barulah tanaman sawit berbuah. Buah yang pertama adalah buah dengan ukuran kecil yang dijual dengan harga murah. Barulah panenan kedua dan ketiga buah sawit memiliki nilai jual yang lumayan mahal.

Kenalan saya yang memiliki lahan menuturkan, pendapatan yang dihasilkan untuk setiap kavling kelapa sawit berkisar antara 3-5 juta tergantung dari kualitas buah yang dihasilkan. Beliau menuturkan panenan besar terjadi di tahun 2007 dimana dalam sebulan dia bisa menghasilkan 10 ton kelapa sawit dengan pendapatan hampir 3 juta rupiah perminggunya. Namun seiring dengan usia tanaman yang semakin tua produksi kelapa sawit kini kian menurun. Tahun depan direncanakan ada peremajan tanaman. Tanaman lama akan diganti dengan tanaman baru. Otomatis pendapatan para pemilik lahan akan sangat berkurang dan harus menunggu sekitar 4-5 tahun ke depan untuk bisa menikmati kembali panenan kelapa sawit.

Suka duka tinggal di daerah perkebunan sawit

Hal ini merupakan pendapat pribadi saya sendiri setelah beberapa waktu tinggal di daerah perkebunan sawit di daerah tempat saudara saya. Tinggal di perkebunan sawit biasanya akan jauh dari keramaian. Untuk sampai ke pusat kota kita harus menempuh waktu beberapa jam perjalanan. Hal itu diperburuk dengan akses jalan yang rusak karena digunakan untuk mengangkut kelapa sawit. Selain itu susah mendapatkan sinyal. Sinyal HP saya dapatkan apabila saya berada di tempat yang tinggi yakni di kantor KUD yang lokasinya 500 meter dari rumah saudara saya. Namun dibalik segala kesusahan yang saya temukan, ada sisi positif yang bisa kita ambil ketika kita hidup di daerah perkebunan yakni bisa menabung. Gaya hidup konsumerisme tidak saya temukan di daerah tempat tinggal saudara saya yang notebene adalah daerah perkebunan sawit. Dengan demikian uang hasil jerih payah kita akan bisa kita gunakan untuk keperluan yang benar-benar kita perlukan tanpa takut akan ketinggalan gengsi. Sekian tulisan pengalaman saya ini saya buat. Mohon maaf apabila ada salah ucap dan salah kata yang mungkin tidak saya sadari dan kurang berkenan bagi pembaca. Terimakasih


Subscribe to receive free email updates:

10 Responses to "pengalaman membantu bekerja di perkebunan kelapa sawit"

  1. Pengalaman yang mengesankan tentunya bisa merasakan kehidupan di perkebunan sawit yang masih alami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namun sangat disayangkan karena berdampak pada berubahnya ekosistem

      Delete
  2. Wow, sangat menarik ya ke rumah saudara di Jambi. Memang betul kalo di daerah terpencil uang bisa lebih awet karena tak banyak yang jualan barang mahal buat adu gengsi.

    Lama juga ya, 5 tahun tanam sawit baru bisa panen. Tapi lumayan juga hasilnya kang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas...betah"an aja di kebun sawit sambil cari kesibukan lainnya

      Delete
  3. yg sering saya dengar sih sinyal dan akses jalan yg paling merepotkan kalau tinggal di daerah sawit mas

    btw mayan tuh kalau seminggu dapet hasil segitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan banget itu mas, bisa nyaingi pendapatan PNS...

      Delete
    2. tp bentar lg kudu nunggu 4 tahun kedepan karena ada peremajaan ya mas

      Delete
    3. Iya mas, harus pintar" menabung mas, karena harus menunggu waktu cukup lama untuk menikmati panenan sawit..tp masih ada kerjaan lain kog mas, daganglah, ternak...jadi g bergantung sepenuhnya pada sawit

      Delete
  4. Pengalaman banget ya, Mas, terkadang aku suka pengen ngalamin gimana rasanya tinggal di daerah perkebunan sawit. Di daerahku sendiri banyak yang merantau ke kelimantan dan kerja di sawit..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo ada waktu sesekali ikut ke Kalimantan aja mas Andi, kayake lebih pedalaman sana drpada Sumatera, tentu akan lebih seru :D

      Delete