berbagi cerita, rejeki datang setelah menikah

Rejeki akan datang setelah kamu menikah. Apakah pembaca disini sering mendengar hal itu? Jika pernah mendengarnya, ungkapan tersebut mungkin ada benarnya juga. Menikah adalah dambaan sebagian besar orang. Saya mengatakan demikian karena tidak semua orang ingin menikah, sebagai contoh seorang pastur atau bruder, keduanya adalah pemuka agama yang menjalankan kaul selibat dimana mereka memilih untuk tidak menikah dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk karya keselamatan Tuhan.

rejeki datang setelah menikah
mari kita berkomitmen


Pada umumnya, menikah dilakukan ketika seseorang sudah cukup umur, mempunyai pola pikir yang dewasa dan tentunya sudah memiliki calon pasangan hidup yang kelak akan menemaninya di sisa kehidupan sampai dengan maut memisahkan. Akan terasa aneh bilamana seseorang merencanakan sebuah pernikahan namun belum mempunyai seorang pasangan hidup. Terus orang itu mau menikah sama siapa ???

Sebagai seorang lelaki normal, tentu saya mempunyai keinginan untuk menikahi wanita yang selama ini menjadi pacar saya. Seperti pada umumnya pasangan yang mau menikah, muncul kekhawatiran-kekhawatiran yang selama ini cukup mengganggu di awal komitmen kami untuk membangun sebuah rumah tangga, tidak lain soal keuangan rumah tangga. Suami memiliki peran untuk mencari rejeki guna menafkahi keluarganya kelak. Sedangkan wanita boleh saja membantu suami dalam mencukupi kebutuhan hidup dengan bekerja. Ya seberapapun hasilnya, tetap disyukuri dan diterima karena yang bertugas utama mencari nafkah adalah suami sedangkan istri hanya membantu.

Saya bertugas sebagai pegawai swasta sebuah rumah sakit dengan gaji yang saya rasa cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup berumah tangga. "Cukup" dalam artian gaji saya hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup bukan untuk ditabung. Oleh karenanya calon istri saya menginginkan untuk tetap bekerja setelah nanti kami menikah.


Hubungan jarak jauh

Calon istri saya adalah seorang pengajar yang bertugas di sebuah Sekolah 3 bahasa di daerah Palur Karanganyar, sedangkan saya bertugas di Kota Yogyakarta. Selama ini kami membina hubungan jarak jauh. Komitmen kami ketika kami berumah tangga, kami dapat tinggal serumah dalam artian tidak saling terpisah satu dengan yang lainnya. Karena keinginan calon istri ingin ikut dengan saya, maka saya berusaha mencarikannya pekerjaan di daerah tempat saya bekerja. Kegiatan sehari-hari saya berubah, yang dulu saya sering membuka sosmed kini berubah menjadi sering browsing, membaca koran, hal itu tidak lain untuk mencarikan istri saya sebuah pekerjaan yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal saya atau lingkungan tempat saya bekerja.

Daftar sana-sini, memasukkan lamaran kerja

Bersumber dari informasi lowongan pekerjaan yang saya dapatkan baik itu dari internet, surat kabar ataupun informasi dari rekan saya. Calon istri saya mulai memasukkan lamaran ke sekolah-sekolah yang saat itu membuka lowongan pekerjaan. Mulai dari sekolah di yayasan, sekolah homescholling ataupun sekolah yang pada saat itu dirasa kekurangan guru pengajar. Tidak terhitung lagi berapa sekolahan dilamar, jika ditotal mungkin bisa puluhan sekolah. Dan hal itu berjalan sekitar 2 tahun lebih. Keinginan untuk bekerja dekat dengan saya, dekat dengan tempat tinggal perlahan pudar. Calon istri saya memang mengirimkan lamaran ke kantor yayasan yang berada di pusat yakni di Jakarta dan Surabaya, dan beberapa kali mendapat panggilan untuk interview, namun semuanya terkendala penempatan kerja. Beberapa panggilan kerja memberitahukan bahwa penempatan kerja berada di luar propinsi dan itu tidak sesuai dengan komitmen kami yakni untuk hidup satu rumah. 


Proses pernikahan yang berjalan lancar

Kami menjalani proses pernikahan dari pesiapan sampai dengan pelaksanaan semuanya dapat berjalan dengan lancar. Pada saat itu bertepatan ketika istri saya resign dari tempat bekerja. Setelah resign otomatis dia tidak bekerja lagi. Pikir saya, tidak apalah saya yang bekerja sendiri karena itu sudah menjadi tanggung jawab saya, sedangkan istri saya nanti bisa fokus mengurus rumah serta mengurus anak di rumah.

Di rumah akan lebih baik

Setelah menikah kamipun sepakat untuk ikut kedua orang tua saya sambil mempersiapkan datangnya momongan serta persiapan pembangunan rumah kami yang lokasinya memang tidak jauh dari rumah tersebut. Minggu-minggu pertama kehidupan rumah tangga kami berjalan dengan lancar sampai pada suatu ketika istri saya mengaku mulai bosan hanya di rumah saja tanpa ada aktifitas lainnya. Ya memang wajar saja, dahulu kegiatannya diisi dengan mengajar sekarang hanya di rumah menunggu suami pulang dari kerja. Sempat terpikir untuk mendaftarkan istri ke SD dekat dengan rumah tentu menjadi guru honorer, namun setelah saya pikir-pikir lebih baik istri tetap di rumah sambil perlahan-lahan merintis usaha kecil-kecilan untuk menyalurkan hobinya memasak makanan kecil.

Kabar baik pun tiba....

Minggu ketiga setelah pernikahan kami, secercah harapan muncul. Suatu sore setelah pulang dari bekerja, ibu saya menyuruh saya membuatkan surat lamaran untuk istri guna mandaftarkan diri sebagai pengajar di salah satu SMK yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal saya. Kebetulan SMK tersebut membutuhkan seorang guru pengajar untuk jurusan yang sama dengan jurusan yang diambil istri saya ketika dulu kuliah. Menurut info yang saya dapatkan, guru pengajar yang lama sudah pensiun sedangkan guru lainnya sedang hamil tua. Oleh karenanya, SMK tersebut sangat membutuhkan tambahan seorang guru pengajar. 

Esoknya saya mengantarkan istri saya ke Sekolah yang dimaksudkan. Orang yang ingin pertama kami temui adalah kepala sekolah SMK tersebut. Kebetulan pada waktu itu SMK tersebut sedang ada rapat tahunan. Sehingga kami harus menunggu sejenak. Kami menghampiri ibu-ibu petugas administrasi disana. Kami menanyakan apakah surat lamaran tersebut harus kami serahkan langsung atau bisa dititipkan. Beliau menerima surat lamaran yang kami bawa, membuka dan membacanya. Karena sudah mempunyai pengalaman kerja lebih dari 3 tahun, beliau menganjurkan untuk menunggu sejenak supaya nanti bisa langsung bertemu dengan kepala sekolah. Biasanya untuk lamaran dari fresh graduate beliau menerima titipan karena harus diseleksi terlebih dahulu. Khusus untuk yang sudah lama bekerja dan memiliki pengalaman kerja, beliau menyarankan untuk bertemu langsung dengan kepala sekolah. 

Sekitar satu jam istri saya menunggu rapat selesai. Barulah setelah itu bisa bertemu dengan Bapak sekolah yang dimaksudkan. Setelah mengutarakan maksud kedatangan serta menyerahkan surat lamaran kerja, beliau menjanjikan akan segera memanggil istri saya untuk interview. Tidak sampai 3 hari, kepala sekolah tersebut menepati janjinya, yakni memanggil istri saya untuk interview dan hasilnya puji Tuhan diterima menjadi pengajar disana.

Rejeki sudah ada yang mengatur

Jika saya flash back, perjuangan mencari pekerjaan guna mendapatkan rejeki untuk menopang perekonomian kehidupan kami berkeluarga memang cukup panjang. Entah berapa sekolah yang sudah kami datangi, berapa bimbingan belajar serta homescholling yang sudah dimasuki lamaran pekerjaan oleh istri saya dan ternyata Tuhan tidak mengijinkannya bekerja disana. DIA telah menyiapkan sebuah pekerjaan yang tepat di waktu yang tepat. Pekerjaan yang tidak jauh dari kediaman kami, dimana kami tetap bisa memberi pengawasan terhadap anak-anak kami nanti sambil mencari nafkah. Semuanya itu datang setelah kami menikah. Masih banyak lagi rejeki-rejeki yang datang setelah kami menikah, diantaranya tawaran untuk jasa homecare yang semakin hari semakin banyak, tunjangan serta bonus dari kantor yang semakin meningkat.

Semuanya rejeki berasal dari Tuhan dan Tuhan sudah mengatur sedemikian rupa, tentunya jika kita mau berusaha dan berdoa maka niscaya Dia akan membukakan pintu rejeki kepada kita. Seperti apa yang telah dijanjikannNya kepada kita semua. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat, ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" Semoga cerita ini bisa menjawab setidaknya sedikit kekhawatiran rekan rekan yang mau dan sedang mempersiapkan pernikahan. Jangan takut untuk menikah !!!

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "berbagi cerita, rejeki datang setelah menikah"

  1. ohh ceritanya mas yosef ini pengantin baru toh...terus melangkah mas jalan masih panjang menuju keluarga bahagia ,saran saja baiknya tinggal sendiri misah dengan mertua bair lebih mandiri itu berdasarkan penagalaman saya selama 7 tahun nikah mas meski cuma ngontrak

    ReplyDelete
    Replies
    1. awalnya memang ingin mengontrak rumah mas, sembari nyicil buat gubuk...karena beberapa pertimbangan, seperti kesehatan orang tua saya. Kami memilih untuk tetap tinggal serumah dengan orang tua

      Delete
  2. saya juga sering mendengar bahwa rejeki datang setelah menikah.saya dulu sebelum nikah juga takut nanti istri dikasih makan apa,alhamdlillah sekarang udah punya momongan.

    yg penting mau usaha ya mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas yanto....Gusti Mboten sare, asal mau berusaha tentu pintu rejeki juga akan dibukakan olehNya.

      Delete
  3. Menurut saya kalo kita sudah menikah maka akan semakin bertambah rejekinya, yang penting mau berusaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. amien mas....mau berusaha karena ada kewajiban baru ya mas

      Delete
  4. Replies
    1. makasih dek sudah berkunjung :) happy blogging

      Delete